Jumat, 14 Desember 2012

AGAMA WARISAN ORANG TUA

                                                     (Foto: atjehcyber)

Catatan saya kali ini merupakan hasil diskusi dengan salah seorang teman mengenai agama.Dan telah kami lakukan selama bertahun-tahun.Bagi kami, memeluk agama---yang kebanyakan dari kita hanyalah sebagai warisan dari orang tua atau sebagai agama keturunan---masih menjadi pertanyaan besar.

Sebelum berdiskusi kami melepaskan sementara identitas kami sebagai pemeluk agama tertentu, supaya dapat berargumen dengan obyektif.Karena penilaian kepada agama kita sendiri lebih bersifat subyektif.Kalau agama kita ibaratkan sebagai rumah maka kami mencoba ke luar dulu, dengan tujuan dapat melihat bentuk rumah kita.Apa nilai positif dan negatif dari rumah kita akan terlihat ketika berada di luar.Ketika masih berada di dalam, otomatis kita mengatakan rumah kitalah yang paling benar.Karena belum pernah membandingkan dengan rumah orang lain.

Kesimpulan dari diskusi tersebut saya tempatkan di awal tulisan.Kesimpulannya adalah demikian.'' Bahwa kita sebenarnya tidak mempunyai alasan obyektif untuk menyalahkan agama orang lain (menganggap agama orang lain salah).Sikap intoleransi atau tidak toleran dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita, sangat konyol dilakukan.Apalagi sampai melakukan tindakan fisik berupa kekerasan ''.

Menerima doktrin agama dari orang tua sejak kecil bagi kebanyakan orang tidak menjadi persoalan.Namun bagi sebagian yang lain---termasuk kami---merupakan hal yang masih sangat perlu dipertanyakan kebenarannya.Agama yang nota bene sebagai warisan orang tua akan menjadi hal yang bersifat dogmatis.Artinya, kita tidak diberi kesempatan untuk memilih agama mana yang kita anggap paling benar.Karena agama yang kita anggap paling benar adalah yang seperti diwariskan oleh orang tua.

Sebagai entitas yang diwariskan, agama bersifat turun temurun.Orang tua kita menerima agama mereka juga dari orang tua sebelumnya.Begitu seterusnya.Hal ini memang tidak dialami oleh setiap individu tetapi mayoritas masyarakat mempunyai pengalaman seperti ini.Sehingga wajar kalau seseorang dengan warisan dari orang tua berupa agama X akan mengatakan bahwa X sebagai agama yang paling benar.Begitu juga dengan keluarga orang lain yang mewarisi agama Y, otomatis juga mengatakan bahwa agama Y yang paling benar.

Kemudian apa yang salah dengan kedua keluarga tadi.Yang pertama hidup dengan agama X sedangkan yang kedua menjalankan kehidupan dengan agama Y.Kita akan menemukan fakta masing-masing menganggap agama merekalah yang paling benar.Hal ini wajar karena bersifat turun temurun.Kalau kita renungkan, tidak ada alasan saling menyalahkan karena masing-masing sudah mempunyai ukuran kebenaran sendiri-sendiri.

Apabila logika kita balik, individu yang beragama X tadi dilahirkan di keluarga Y maka secara tidak langsung juga akan mengatakan bahwa agama Y-lah yang paling benar, bukan X lagi.Begitu juga sebaliknya, kalau yang beragama Y seandainya dilahirkan di keluarga X maka akan menganggap bahwa X-lah yang paling benar.Persoalan ini akan menjadi pengalaman setiap orang yang beragama.Tidak hanya agama X dan Y saja, namun bisa agama A, B, C.... dan seterusnya.

Faktor lain yang mempengaruhi penerimaan agama mana yang dianggap benar adalah geografis.Persoalan ini pernah dibahas oleh seorang ulama Iran, Murtadha Mutthahhari.Faktor geografis sangat mempengaruhi pemilihan agama karena merupakan lingkungan yang berisi masyarakat.Singkatnya demikian, individu yang dilahirkan di wilayah yang mayoritas beragama X akan otomatis memeluk agama X karena dalam masyarakat tersebut agama yang dianggap benar adalah X.Begitu juga dengan individu yang dilahirkan dalam masyarakat yang beragama Y, maka akan beragama Y karena agama Y yang dianggap benar.Sekali lagi hal ini tidak mutlak menjadi pengalaman setiap individu tetapi dialami oleh mayoritas orang.Contoh konkritnya, orang yang dilahirkan di Israel yang mayoritas beragama Yahudi akan menganggap bahwa agama Yahudi paling benar.Sedangkan orang arab akan menganggap agama Islam paling benar karena mayoritas di Arab beragama Islam.Bagaimana kalau mereka dibalik?Bukankah agama yang akan dianggap benar juga sebaliknya?

Dari gambaran di atas kita dapat menarik garis besarnya.Karena kelahiran merupakan hak prerogratif Tuhan---kita tidak dapat memilih dilahirkan di mana, dari keturunan siapa dan sebagainya---maka orang yang memeluk agama tertentu tidak melakukan kesalahan.Meskipun oleh orang lain yang berbeda agama atau keyakinan akan dianggap salah.Dengan demikian, masing-masing individu pasti mempunyai keyakinan yang kuat mengenai kebenaran yang mereka anut.Kalau masing-masing merasa benar dan memang seharusnya demikian, apa yang menjadi alasan kita untuk menyalahkan mereka?Begitu juga mereka tidak mempunyai alasan untuk menyalahkan kita.

Oleh karena itu konflik yang terjadi menyangkut persoalan agama atau keyakinan sangat memprihatinkan.Kalau kita mau merenungkan hal-hal spritual maka kita akan menghindari sikap fanatisme yang berlebihan.Dengan maksud, sebagai orang yang beragama tidak bersikap eksklusif terhadap agama orang lain.Namun kita kembangkan sikap inklusif dengan orang yang berbeda agama.

11 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dia lebih dahulu. Liat tahunnya

      Hapus
    2. hhh, yg mungkin mengcopy paste itu adek afi,...
      dan sya penasaran dari mana afi mengetahui tentang agama begitu dlm padahal dia msih pemulah

      Hapus
  2. Saking semangatnya "berAfi-ria" si sakuradrops sampai ga liat lagi postingan ini ditulis tahun berapa :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. ditulis tahun 2012/12 stiawanw dot blogspot dot com/2012/12/agama-warisan-orang-tua.html

    dek afi nulis di tahun 2017

    BalasHapus
  4. dibagian mananya yg copas?????????. kalau sekedar ide, sah-sah aja dong

    BalasHapus
  5. Saya juga bertanya2 copas nya dibagian mana? Heeeelllooooo ada yg bisa jawab

    BalasHapus
  6. Saya juga bertanya2 copas nya dibagian mana? Heeeelllooooo ada yg bisa jawab

    BalasHapus
  7. kalo benar tulisan ini lebih dulu dirilis.bisa saja tulisan ini sebagai inspirasinya..itu tidak salah

    BalasHapus
  8. Gak usah diributkan mana yg dahulu..... Postingan Ini tidak viral karena ditahun lampau. Seandainya posting tahun ini.. Pasti heboh dan dicaci habis2an. Sejak kecil di sekolah kalo masih pada inget.. Agama warisan sering kita dengar, cuma karena dibutakan oleh kepentingan tokoh aja kita jadi saling menyalahkan.

    BalasHapus