Jumat, 14 Desember 2012

BENCANA DAN KUASA TUHAN


Ratusan kepala keluarga korban bencana erupsi Gunung Merapi di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta nekat membangun rumah permanen dan menempati rumah di Kawasan Rawan Bencana III Merapi (Foto: pdk)


Berbicara mengenai hubungan antara bencana alam dengan kuasa Tuhan barangkali akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan.Karena bencana adalah realitas sedangkan kuasa Tuhan lebih bersifat doktrinal.Bagaimana menghubungkan sebuah realitas yang kasat mata dengan doktrin yang metafisika?Mungkinkah ada relasi antara bencana alam-- yang dapat dipahami dengan ilmu empiris-- dan kuasa Tuhan yang berdasar keyakinan?Apa manfaatnya menghubungkan antara keduanya?

Perbedaan penilaian juga kita temukan; antara perspektif para ilmuan dengan perspektif ahli agama dalam memahami bencana yang beberapa tahun ini sering terjadi.Ilmuan memandang dengan pendekatan metodologi yang logis dan rasional serta menawarkan berbagai macam teori untuk menyelesaikan persoalan.Sehingga tindakan yang dilakukan lebih kepada penanganan pasca bencana serta antisipasi agar apabila bencana kembali melanda dapat diimbangi dengan teknologi yang ada.Tindakan para ilmuan lebih konkrit dan obyektif karena fokus kepada persoalan.

Sedangkan ahli agama memandang bencana dari sisi psikologis manusia.Keterbatasan kemampuan manusia dalam memahami setiap realitas yang terjadi--termasuk bencana--dapat dijadikan alternatif dalam memahami realitas.Bahwa tidak setiap yang terjadi dalam sejarah dapat dipahami secara logis dan rasional.Ada sisi lain dari jiwa manusia; yakni pengakuan adanya kekuatan di luar manusia yang serba maha.Meski begitu bagi sebagian masyarakat, pendekatan para ahli agama yang doktrinal tersebut juga berpengaruh terhadap perilaku sehari-hari.Tidak jarang mereka yang dapat menyerap doktrin akan melakukan tindakan-tindakan yang lebih baik yang juga berpengaruh kepada hubungan sosial dalam masyarakat.

Dan yang lebih bermakna ketika kita dapat memahami bencana yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari hubungan manusia itu sendiri dengan alam yang ditempati.Baik pemahaman yang disampaikan para ilmuan maupun kalangan agamawan akan bermanfaat apabila kita dapat memahami dan melaksanakan hubungan baik dengan alam.

Kehidupan; yang meliputi mikrokosmos dan makrokosmos; sadar atau tidak sadar mempunyai saling keterkaitan.Keterkaitan antara mereka harus tercipta hubungan yang mutualisme, yang artinya terjadinya keseimbangan.Apabila keseimbangan telah tercerabut maka salah satu entitas yang melingkupi akan melakukan pemberontakan.Dan pemberontakan yang ditunjukkan oleh alam dapat berupa bencana seperti yang kita lihat dan alami sekarang ini.

Universitas Patangpuluhan

 [Gb:Emha Ainun Nadjib (lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953; umur 59 tahun) adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi./foto:ichwankalimasada]                            


Ketika itu Jumat malam, tepatnya tanggal 17 Desember 2010, hujan sepanjang siang tak henti-hentinya mengguyur Yogyakarta, termasuk kota Bantul.Kota yang terletak di sebelah selatan provinsi DIY itu mempunyai ciri tersendiri, khususnya pada tanggal 17, setiap bulannya.

Bertempat di pelataran sebuah TK dengan nama Alhamdulillah, terlihat ribuan orang berkumpul.Dari segala penjuru dan segala kalangan.Dari tukang becak, pengangguran, mahasiswa, seniman, tentara, pejabat, pengusaha dan masih banyak lagi.Para wanita, ada yang berjilbab atau tidak, yang laki-laki ada yang memakai peci, surban, berjenggot, tidak berjenggot, memakai celana di atas mata kaki atau tidak,sampai yang mengenakan jeans atau batik, dari yang pinter atau setengah pinter, dari yang gagal atau yang sukses.Usianya mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek, bertemu tanpa ada yang mengundang karena memang sudah terbiasa dengan acara seperti ini. Malam itu, terdengar sayup-sayup Shalawat kepada Nabi yang dilantunkan dengan merdu oleh budayawan Emha Ainun Najib yang akrab disapa Cak Nun.Dengan busana serba putih, ia bernyanyi diiringi alunan gamelan kontemporer Kiai Kanjeng.Hujan yang sejak siang mengguyur, malam itu sudah reda, meski tanah yang mereka pijak masih tampak basah namun tidak menyurutkan langkah para Jamaah Maiyah.

Malam itu berkumpul para alumni " Universitas Patangpuluhan ".Sebuah universitas yang tidak mempedulikan legalitas, apalagi formalitas maupun identitas.Kampus yang berdiri sekitar tahun 70 an tersebut direktori oleh Cak Nun yang ketika itu drop out dari Fakultas Ekonomi UGM.Nama Patangpuluhan diambil dari daerah yang di tempati." Kampusnya tidak memakai pintu, dari pagi sampai pagi lagi selalu terbuka.Tapi gak onok maling sing mlebu, lha wong jerone gak onok apa-apane ", kelakar Cak Nun dengan gaya Jombangan.Mahasiswa di kampus tersebut terdiri dari seniman, penulis, sastrawan, jurnalis, anak jalanan atau pengangguran.Mereka di sana berdiskusi berbagai persoalan yang menyangkut realitas sehari-hari sekaligus yang mereka alami.Dan, kampus ini pula yang melahirkan para alumni seperti Cak Nun serta yang lain.

Para alumni Universitas Patangpuluhan berbagi pengalaman ke para jamaah Maiyah.Mulai dari bagaimana mencari identitas dengan kondisi yang rata-rata drop out kuliah.Mereka mengatakan, dengan tanpa bekal ijasah formal ketika itu, mereka harus menjadi orang sakti supaya dapat bertahan hidup.Bagi mereka, terlibat langsung dengan masyarakat dengan berbagai latar belakang lebih bernilai daripada hanya berteori di belakang meja.Mereka terlibat langsung dengan realitas sosial di negara ini.Bagaimana rasanya hidup susah, terjepit, kadang makan kadang puasa, adalah realitas yang mereka rasakan.

Tetapi dari kampus inilah Maiyah terbentuk, yang sekarang sudah tersebar ke mana-mana dengan nama yang berbeda-beda, bahkan sampai ke luar negeri.Jamaahnyapun sekarang ribuan orang.Melalui media ini Cak Nun dan kawan-kawan serta Kiai Kanjeng merombak cara berpikir masyarakat mengenai pemahaman agama, politik, budaya, hukum dan lain sebagainya.Terkadang melakukan hal-hal yang kontroversial, seperti, dalam pengajian tersebut sering dinyanyikan lagu-lagu Gereja maupun nyanyian orang Yahudi.Tetapi itulah pluralitas yang dikemas sedemikian rupa sehingga tetap menyegarkan hati dan pikiran.  

MASYARAKAT FACEBOOK


                                                             (Foto: berita9)



Barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa jejaring sosial (social networking) adalah sebuah masyarakat.Apakah itu facebook, twitter dan lain-lain.Dalam sosiologi, masyarakat didefinisikan sebagai: kumpulan dari beberapa atau banyak individu yang melakukan interaksi dengan aturan tertentu.Kalau kita perhatikan syarat sederhana tadi,jejaring sosial sudah memenuhi kriteria layak disebut sebagai masyarakat.Masyarakat dalam jejaring sosial agak berbeda dengan masyarakat pada umumnya karena tidak dibatasi oleh faktor geografis.Dengan kata lain facebook atau twitter memiliki karakteristik sendiri, yakni dunia maya.Sebuah perwujudan yang mengabaikan faktor ruang, meski masih dibatasi oleh waktu.

Jejaring sosial dalam perwujudannya di dunia maya juga melakukan interaksi.Dengan facebook atau twitter, masyarakat ternyata mampu melakukan hal-hal yang juga dilakukan oleh masyarakat konvensional.Misalnya:berbisnis, saling tukar informasi, melakukan perkenalan, bertemu dengan teman lama dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan.Masyarakat dalam jejaring sosial oleh media sering dijadikan sebagai bahan dalam pemberitaan.Kasus Prita dan Bibit-Candra misalnya, merupakan contoh yang pernah diolah oleh media, yang akhirnya mempengaruhi kebijakan penegak hukum dalam mengambil kebijakan atas keduanya.Dengan kamajuan teknologi , masyarakat dalam facebook atau twitter lambat laun akan membentuk kebiasaan yang dinamakan budaya atau kebudayaan.Dalam bentuk yang lain, tidak seperti budaya sebelumnya.Bahkan, pola yang ada dalam masyarakat----konvensional----sejak lama dapat dirubah dengan melakukan interaksi manggunakan provider jejaring sosial.Ditambah lagi pola interaksi masyarakat konvensional yang sudah mengalami banyak kendala sekaligus hambatan.Persoalan kemacetan di jalan salah satunya.Meskipun sekarang baru mendominasi kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya atau Medan, nantinya juga akan menimpa kota-kota lain di Indonesia.Kemacetan merupakan persoalan seruis dalam negara.Akibat kemacetan, roda perekonomian maupun pemerintahan sangat terganggu.Kecepatan dan ketepatan waktu sering terbuang sia-sia dengan adanya kemacetan.

Orang Eropa tidak mau lagi adanya batasan ruang dalam interaksi keseharian.Mereka menuntut untuk dihilangkannya batas-batas negara dengan tujuan akses untuk ke luar wilayah di kawasan Eropa bisa lebih mudah.Konsep negara hanya dijadikan indentitas semata, sebagai pembeda------tempat di mana mereka dilahirkan.Mata uang Euro adalah salah satu antitesa dari batasan yang selama ini dianggap sebuah belenggu.Masyarakat pengguna jejaring sosial sebenarnya juga bisa melaksanakan seperti yang biasa dilakukan masyarakat konvensional.Tinggal membangun strukturnya.Perekonomian yang nota bene adalah tonggak kebutuhan manusia, juga dapat dijalankan dengan jejaring sosial.Hal ini akan lebih efektif karena menghemat biaya serta waktu.Kita tidak perlu ke mana-mana hanya untuk membeli sesuatu.Begitu juga dalam hal pemerintahan.Masyarakat jejaring sosial juga dapat menciptakan struktur pemerintahan dengan model tertentu.Sehingga perang dengan alasan geografis tidak akan kita dengar lagi.Terciptanya struktur masyarakat jejaring sosial dapat dijadikan alternatif dari bentuk masyarakat yang sudah ada.Kita sudah merasa jenuh dengan pemerintahan yang korup, pemilihan kepala daerah atau anggota legislatif yang memakan biaya besar namun hasilnya nol besar pula.Dengan pola tersendiri, dunia maya dapat membentuk masyarakat bahkan pemerintahan yang lebih rasional dan efektif.Tidak hanya mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu di mana hasilnya tidak lebih baik.

Dunia global memungkinkan pemikiran gila seperti ini.Dalam masyarakat dunia maya, juga akan diangkat Presiden, menteri-menteri, bupati dan seterusnya, secara online.Alam, seandainya mampu berteriak, sudah amat jenuh menyaksikan kekonyolan yang dilakukan manusia selama ini.Tindakan yang seringkali hanya merugikan pihak lain tidak juga dapat dihilangkan, sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang.Dengan menciptakan dunia sendiri, subyek----manusia-----memiliki alternatif untuk melakukan perubahan.Bukan hanya revolusioner tetapi supra-revolusioner.Namun, pertanyaannya apa mungkin hal ini dilaksanakan?

REFLEKSI MEI '98


Gb:Protes mahasiswa menolak Sidang Istimewa MPR dengan tentara pasukan marinir mengamankan kerusuhan yang terjadi di sekitar Jembatan Semanggi, Jakarta, 1998.(Foto: hajingfai)



Sebegitu tajamkah pragmatisme menghujam dalam budaya kita?Sehingga para mahasiswa tidak lagi menjadi '' poros perubahan '', seperti ketika itu, tiga belas tahun yang lalu.Kini kita tidak dapat lagi menyaksikan keringat perjuangan atau darah kritisisme dari mereka.



                     Gb:Panser PHH ABRI pada kerusuhan Jakarta 14 Mei 1998(Foto: hajingfai)


Liberalisme; pun juga Kapitalisme telah menyebabkan para mahasiswa menjadi limbung menghadapi perubahan.Kampus-kampus telah menjadi pusat kesenangan, pusat kemewahan; perkuliahan menjadi jembatan melangkah menuju prestise semata.



  Gb:Massa membalik dan membakar mobil pada kerusuhan tanggal 14 Mei 1998 di jalan Hasyim          Ashari, Jakarta(Foto: hajingfai)

Apakah ini yang dinamakan menyesuaikan diri?Ataukah ini budaya yang salah kaprah dan salah arah?

REVOLUSI SEJATI

                                                                   (Foto: foreignpolicy)


Timur Tengah bergejolak dengan revolusi.Dengan menyuarakan demokrasi sebagai pilihan, rakyat menuntut setiap pemimpin yang diktator untuk segera melepaskan jabatannya.Mulai dari Tunisia, Mesir, Bahrain, Yordania, Yaman maupun yang lainnya.Gerakan massa tidak mampu lagi dibendung oleh aparat keamanan meski sekian ribu peluru mengancam.

Moncong senjata yang diarahkan seakan drama yang tidak perlu ditakuti.Tank-tank para serdadu tidak mampu membuat nyali para demonstran menciut.Mereka terus bergerak sampai revolusi benar-benar terjadi.

Tetapi dalam catatan ini saya ingin berbicara lain mengenai revolusi.Revolusi yang kita saksikan di Timur Tengah syarat dengan kepentingan.Tidak selamanya yang mereka teriakkan merupakan kebenaran.Setidaknya kebenaran yang diukur dengan kepentingan.

Kita juga memerlukan revolusi diri sendiri.Revolusi dari kemiskinan, kebodohan, fanatisme yang berlebihan maupun dari budaya korupsi yang setiap hari menyelimuti.

Kata Sukarno, tidak ada revolusi yang ' ready for use '.Setiap revolusi memerlukan pengorbanan.Begitu juga dalam merevolusi diri sendiri.Kita perlu berkorban demi terlepas dari keterpurukan.Kita juga memerlukan keringat untuk lari meninggalkan kesengsaraan.

Ketika era Suharto dengan Orde Baru yang mengerikan.Bagi mereka yang ingin berlaku bebas.Revolusi yang terjadi di Iran pada 1979 adalah hantu yang menakutkan.Suharto membungkan setiap informasi yang membahas revolusi.Ketakutan revolusi di Iran untuk diekspor membuat Orde Baru berlaku diktator.Demi melanggengkan kekuasaan.

Tetapi kediktatoran Orde Baru telah kita gantikan dengan demokrasi.Meski mempunyai tujuan yang lebih baik namun bukan berarti tanpa kekurangan.Revolusi bagi bangsa ini akan lebih baik bila dimulai dari diri sendiri.Masing-masing individu melakukan revolusi.Ke arah yang lebih baik dan tertata.

Bila revolusi di Timur Tengah sarat dengan kepentingan maka di sini kita disatukan dengan satu kepentingan yakni kebenaran.Kebenaran dalam bersikap sebagai warga negara, sebagai pemimpin maupun yang lain.

KAIFAL HAL YA.. MESIR

                                                   (Foto: eramuslim)

Irhal Mubarak...., yashut Hosni Mubarak....., turunkan Mubarak..., kurang lebih demikian makna kata-kata yang terpasang pada spanduk para demonstran.Seruan itu ditujukan kepada pemerintah incumbent.Boleh jadi awal tahun 2011 ini adalah hari pelengseran (yaum al-masah/the day of slide down) bagi pemerintahan Hosni Mubarak.

Demonstrasi di Mesir yang sudah berlangsung lebih dari sepekan ini menjadi perbincangan banyak forum dunia dan Indonesia khususnya.Secara psikologis bangsa kita mempunyai kedekatan dengan bangsa Mesir.Pertama, karena sama-sama mayoritas berpenduduk Muslim. Kedua, karena banyak WNI yang tinggal di sana baik untuk studi maupun urusan pekerjaan.Setiap hari media cetak dan elektronik di Indonesia memperbincangkan peristiwa ini.Salah satunya TV One.Para ahli dan pengamat Timur Tengah yang selama ini menghilang, kini muncul kembali.Di antaranya adalah Riza Shihbudi, Ulil Abshar Abdalla dan Salim Said.Dalam wawancaranya di TV One, Riza Shihbudi, memandang demonstrasi di Mesir merupakan peristiwa dilematis.Karena tidak dipersiapkan pemimpin baru oleh rakyat, pasca Mubarak nanti.

Kita mengenal ISMES ( The Indonesian Society for Middle East Studies), organisasi yang mengkaji persoalan-persoalan di Timur Tengah.Tapi sekarang gaungnya jarang kita dengar lagi.Peristiwa revolusi di Iran tahun 1979 disusul perang Irak-Iran, perang Teluk yang melibatkan Irak dan Kuwait, dan akhirnya konflik Gaza, antara Israel-Palestina, menjadi perhatian organisasi ISMES.

Beberapa pengamat yang membahas demonstrasi di Mesir antara lain adalah Salim Said.Menurut doktor yang juga ahli militer tersebut, demonstrasi di Mesir kali ini merupakan peristiwa yang langka.Di Timur Tengah; belum pernah terjadi massa menggulingkan presiden yang diktator tanpa dipimpin oleh calon diktaror juga.Dengan kata lain, sejarah Timur Tengah mencatat, diktator selalu digulingkan oleh tokoh yang nantinya menjadi pengganti.Tetapi ternyata dia juga kembali menjadi diktator baru.Apa yang kita saksikan di Tunisia dan Mesir kali ini sebagai pemandangan berbeda.

Sedangkan Ulil Abshar Abdalla, mencoba menghubungkan peristiwa Mesir dengan teori Huntington tentang '' Gelombang Demokrasi Keempat ''.Sebentar lagi dunia global akan melihat dua negara besar dapat menjalankan demokrasi dengan baik, yakni, Indonesia dan Mesir.Fakta ini sekaligus menjawab keraguan banyak pihak mengenai keserasian antara Islam dan demokrasi.Selama ini Islam sering dikatakan tidak dapat menjalankan demokrasi.

Sementara di Teheran, Iran.Dalam khotbah Jumatnya, Ayatullah Ali Khamenei mengatakan, '' selama 30 tahun negara Mesir dipegang oleh orang yang tidak mencari kebebasan dan merupakan musuh orang yang mencari kebebasan.Hosni Mubarak merupakan teman, sahabat dan pelayan Zionis.Mubarak melayani Amerika Serikat agar dapat mengeruk kekayaan dari Mesir ''.Peristiwa di Tunisia dan Mesir, kata pemimpin spiritual Iran tersebut, merupakan tanda kesadaran Islam di Timur Tengah.Bangkitnya kesadaran ini akan merugikan Amerika Serikat dan Israel (Vivanews, 5 Februari 2011).

Berkaitan dengan hal tersebut, Joseph S Nye menjelaskan, peristiwa di Timur Tengah dipengaruni oleh arus informasi yang tidak dapat dibendung.Dalam bukunya, '' The Future of Power '', mantan wakil menteri pertahanan Amerika Serikat ini mengatakan, demonstrasi di Tunisi yang dipublikasikan melalui twitter dan televisi Al Jazeera telah mempengaruhi rakyat di Mesir.Dalam teorinya, politik global tidak lagi menyangkut pemerintah belaka, namun juga dunia informasi.Era informasi memandang begitu pentingnya peranan informasi, yang juga dikenal dengan '' Revolusi Industri Ketiga ''.Di mana informasi seakan telah meruntuhkan tembok penghalang antara pemerintah (Government) dan bukan pemerintah (Non Government).Organisasi swasta seperti perusahaan, LSM dan teroris mempunyai andil dalam percaturan politik global.Monopoli birokrasi tradisional akan melemah karena perkembangan teknologi informasi.

AGAMA WARISAN ORANG TUA

                                                     (Foto: atjehcyber)

Catatan saya kali ini merupakan hasil diskusi dengan salah seorang teman mengenai agama.Dan telah kami lakukan selama bertahun-tahun.Bagi kami, memeluk agama---yang kebanyakan dari kita hanyalah sebagai warisan dari orang tua atau sebagai agama keturunan---masih menjadi pertanyaan besar.

Sebelum berdiskusi kami melepaskan sementara identitas kami sebagai pemeluk agama tertentu, supaya dapat berargumen dengan obyektif.Karena penilaian kepada agama kita sendiri lebih bersifat subyektif.Kalau agama kita ibaratkan sebagai rumah maka kami mencoba ke luar dulu, dengan tujuan dapat melihat bentuk rumah kita.Apa nilai positif dan negatif dari rumah kita akan terlihat ketika berada di luar.Ketika masih berada di dalam, otomatis kita mengatakan rumah kitalah yang paling benar.Karena belum pernah membandingkan dengan rumah orang lain.

Kesimpulan dari diskusi tersebut saya tempatkan di awal tulisan.Kesimpulannya adalah demikian.'' Bahwa kita sebenarnya tidak mempunyai alasan obyektif untuk menyalahkan agama orang lain (menganggap agama orang lain salah).Sikap intoleransi atau tidak toleran dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita, sangat konyol dilakukan.Apalagi sampai melakukan tindakan fisik berupa kekerasan ''.

Menerima doktrin agama dari orang tua sejak kecil bagi kebanyakan orang tidak menjadi persoalan.Namun bagi sebagian yang lain---termasuk kami---merupakan hal yang masih sangat perlu dipertanyakan kebenarannya.Agama yang nota bene sebagai warisan orang tua akan menjadi hal yang bersifat dogmatis.Artinya, kita tidak diberi kesempatan untuk memilih agama mana yang kita anggap paling benar.Karena agama yang kita anggap paling benar adalah yang seperti diwariskan oleh orang tua.

Sebagai entitas yang diwariskan, agama bersifat turun temurun.Orang tua kita menerima agama mereka juga dari orang tua sebelumnya.Begitu seterusnya.Hal ini memang tidak dialami oleh setiap individu tetapi mayoritas masyarakat mempunyai pengalaman seperti ini.Sehingga wajar kalau seseorang dengan warisan dari orang tua berupa agama X akan mengatakan bahwa X sebagai agama yang paling benar.Begitu juga dengan keluarga orang lain yang mewarisi agama Y, otomatis juga mengatakan bahwa agama Y yang paling benar.

Kemudian apa yang salah dengan kedua keluarga tadi.Yang pertama hidup dengan agama X sedangkan yang kedua menjalankan kehidupan dengan agama Y.Kita akan menemukan fakta masing-masing menganggap agama merekalah yang paling benar.Hal ini wajar karena bersifat turun temurun.Kalau kita renungkan, tidak ada alasan saling menyalahkan karena masing-masing sudah mempunyai ukuran kebenaran sendiri-sendiri.

Apabila logika kita balik, individu yang beragama X tadi dilahirkan di keluarga Y maka secara tidak langsung juga akan mengatakan bahwa agama Y-lah yang paling benar, bukan X lagi.Begitu juga sebaliknya, kalau yang beragama Y seandainya dilahirkan di keluarga X maka akan menganggap bahwa X-lah yang paling benar.Persoalan ini akan menjadi pengalaman setiap orang yang beragama.Tidak hanya agama X dan Y saja, namun bisa agama A, B, C.... dan seterusnya.

Faktor lain yang mempengaruhi penerimaan agama mana yang dianggap benar adalah geografis.Persoalan ini pernah dibahas oleh seorang ulama Iran, Murtadha Mutthahhari.Faktor geografis sangat mempengaruhi pemilihan agama karena merupakan lingkungan yang berisi masyarakat.Singkatnya demikian, individu yang dilahirkan di wilayah yang mayoritas beragama X akan otomatis memeluk agama X karena dalam masyarakat tersebut agama yang dianggap benar adalah X.Begitu juga dengan individu yang dilahirkan dalam masyarakat yang beragama Y, maka akan beragama Y karena agama Y yang dianggap benar.Sekali lagi hal ini tidak mutlak menjadi pengalaman setiap individu tetapi dialami oleh mayoritas orang.Contoh konkritnya, orang yang dilahirkan di Israel yang mayoritas beragama Yahudi akan menganggap bahwa agama Yahudi paling benar.Sedangkan orang arab akan menganggap agama Islam paling benar karena mayoritas di Arab beragama Islam.Bagaimana kalau mereka dibalik?Bukankah agama yang akan dianggap benar juga sebaliknya?

Dari gambaran di atas kita dapat menarik garis besarnya.Karena kelahiran merupakan hak prerogratif Tuhan---kita tidak dapat memilih dilahirkan di mana, dari keturunan siapa dan sebagainya---maka orang yang memeluk agama tertentu tidak melakukan kesalahan.Meskipun oleh orang lain yang berbeda agama atau keyakinan akan dianggap salah.Dengan demikian, masing-masing individu pasti mempunyai keyakinan yang kuat mengenai kebenaran yang mereka anut.Kalau masing-masing merasa benar dan memang seharusnya demikian, apa yang menjadi alasan kita untuk menyalahkan mereka?Begitu juga mereka tidak mempunyai alasan untuk menyalahkan kita.

Oleh karena itu konflik yang terjadi menyangkut persoalan agama atau keyakinan sangat memprihatinkan.Kalau kita mau merenungkan hal-hal spritual maka kita akan menghindari sikap fanatisme yang berlebihan.Dengan maksud, sebagai orang yang beragama tidak bersikap eksklusif terhadap agama orang lain.Namun kita kembangkan sikap inklusif dengan orang yang berbeda agama.