Tampilkan postingan dengan label dari catatan fb. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dari catatan fb. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Desember 2012

Selamat Hari Ibu

                                                              (Foto: artikelmuslimah)



Tidak akan disebut laki-laki apabila tidak ada perempuan.Begitupun istilah pria, dikenal karena ada anonim kata wanita.Manusia pertama yaitu Adam, merasa kesepian ketika diciptakan sendirian oleh Tuhan.Sehingga diciptakan lagi seorang teman yang berasal dari tulang rusuknya dan diyakini adalah seorang perempuan, yaitu Hawa atau Eva.Dengan bigitu, Adam tidak merasa kesepian lagi.Karena dengan adanya Hawa dapat mempunyai keturunan sampai sekarang ini.

Kisah dari kitab suci tadi menunjukkan, betapa pentingnya peranan perempuan atau katakanlah ibu dalam kehidupan.Kita ada karena ibu yang melahirkan.Oleh karena itu posisi ibu sangat mulia dan memang harus mulia.Maka kemuliaan yang diamanatkan bagi kaum perempuan, kaumnya para ibu atau calon ibu harus dijaga.Emansipasi hendaknya dijadikan sebagai momentum peranan perempuan dalam globalisasi.Bukannya sebaliknya, ditempatkan pada posisi yang kurang tepat, yang menyebabkan posisi perempuan tidak mulia lagi.Perempuan dapat dimuliakan dengan tetap manjadi seorang ibu yang tidak keluar dari kodratnya.

Kita lahir dari seorang ibu.Dan, perjalanan hidup kita, langkah kita,gerak kita bahkan detak jantung kita terasa kurang sempurna tanpa iringan do'a seorang ibu.

Selamat hari ibu.....

Pungli


                                                                        (Foto: kompasiana)

Sebelum benar-benar terjadi benturan antar peradaban di beberapa Kawasan, seperti ditulis Sammuel P.Huntington dalam teorinya Clash Of Civilizations.Atau sebelum teori jalan ketiga dalam buku  The Third Way nya Anthony Giddens, menjadi alternatif negara-negara Kapitalis.Karena sebelumnya teori ini menjadi diskusi serius antara Tony Blair dan Bill Clinton di Amerika.Maka Indonesia seharusnya mampu menyelesaikan persoaan-persoalan dalam negeri.

Yang salah satunya adalah pungutan liar atau " pungli ".Karena Indonesia memasuki era ASEAN-China Free Trade Agreement (A-C FTA), di mana Indonesia terlibat di dalamnya.Kalau " pungli " tidak segera diselesaikan, minimal dikurangi, eksportir Indonesia akan kesulitan bersaing dalam perdagangan bebas.

Menurut beberapa ahli Politik Internasional, suatu saat nanti kemajuan peradaban akan bergeser dari Barat ke Kawasan Asia.Terlepas benar atau salah teori tersebut, China sekarang mulai menunjukkan indikasinya.Yang sebelumnya China dililit persoalan ekonomi,kini mampu bersaing dengan Amerika atau Jepang dalam perdagangan.Bagaimana dengan Indonesia?

                                              ****

Dalam sebuah kesempatan, seorang eksportir mebel rotan di Cirebon mengatakan, akan menutup perusahaanya karena barang produksinya tidak mampu bersaing di luar negeri.Pasar mebel, khususnya rotan kalah bersaing dengan Thailand, Vietnam dan China.Persoalannya bukan pada kualitas tetapi pada harga.Biaya produksi yang tidak dapat ditekan mengharuskan mebel rotan dari indonesia di jual dengan harga di atas Thailand, Vietnam dan china.Tentu saja konsumen beralih ke mereka.Ketika ditanyakan mengapa hal ini bisa terjadi? Pengusaha tersebut memberikan beberapa alasan.Pertama, upah tenaga kerja dibidang mebel di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan upah di negara Thailand, Vietnam maupun China.Padahal kita tahu berapa upah buruh di Indonesia?Upah inilah yang menyebabkan biaya produksi meningkat.

Alasan kedua, karena maraknya " pungli" baik di dalam pengurusan dokumen maupun di jalan raya.Hal ini menyebabkan para pengusaha harus menambah anggaran produksinya.

Maraknya '' pungli ''dapat disaksikan dalam jalur antara Jogja sampai ke Cirebon.Di sepanjang jalan banyak sekali oknum aparat dengan seragam yang berbeda-beda meminta jatah uang kepada setiap kendaraan yang lewat.Khususnya kendaraan angkutan barang.Taripnya tidak sama.Tergantung besar kecilnya kendaraan Semakin besar kendaraan tentunya taripnya lebih besar.Begitu juga dengan preman yang tidak ketinggalan meminta jatah juga.Terkadang uang tersebut cukup dilempar apabila kendaraan melaju agak cepat.

Pungutan liar seperti itu tentunya sangat meresahkan para sopir karena harus mengeluarkan dana ' ekstra ' untuk membayar.Dalam perhitungan biaya produksi tentu menjadi bengkak akibat '' pungli '' ini.Itulah sebabnya barang-barang ekspor yang berasal dari Indonesia kalah bersaing harga dengan negara lain.

Pemerintah seharusnya menertibkan praktek-praktek '' pungli '' ini.Supaya mampu bersaing dalam perdagangan global.Terlebih lagi bersaing dengan China.


Kelompok Sempalan

Istilah " Sempalan " oleh Cak Nun digunakan untuk menyebut Syekh Siti Jenar dengan kalimat "Wali Sempalan ".Seorang wali yang memiliki pandangan berbeda terhadap ajaran Islam dengan wali yang lain atau Wali Songo.Demikian juga Gus Dur, menggunakan istilah sempalan untuk menamakan kelompok kecil dalam umat Islam yang menyimpang.Kata sempalan berasal dari bahasa Jawa, yang apabila dicari dalam istilah bahasa Indonesia susah ditemukan kesamaannya.Sempalan digunakan untuk menyebutkan dahan yang patah dari pohonnya.Atau ranting yang patah dari dahannya, kata Gus Dur.

Kelompok sempalan atau " splinter groups ", merupakan kelompok kecil yang muncul belakangan sebagai antitesa dari agama induknya.Jumlah jama ' ah pada umumnya lebih kecil dibandingkan agama mainstream.Dan yang lebih ekstrim lagi, kelompok ini dapat berubah menjadi agama baru.Atau mengklaim keyakinan mereka sebagai agama baru meskipun lahir dari ajaran sebelumnya.Dalam fiqih disebut " syar ' u man qablana ".

Munculnya kelompok sempalan disebabkan adanya ketidak puasan dengan ajaran yang sudah ada.Ditambah lagi kekhawatiran mereka mengenai kondisi yang semakin berkembang dan mereka tidak yakin agama lama mampu mengahadapi persoalan dalam masyarakat.Hal ini akibat tidak tercapainya perdamaian dalam masing-masing agama.Bahkan agama justru menjadi sumber konflik bukan perdamainan.

Menurut Gus Dur kembali, mereka berpegangan pada adagium, la dina illa bi jama ' atin, wala jama ' ata illa bi imaratin, wala imarata illa bi amirin ( bi imamin, bi khalifatin dll.), bahwa tidak ada agama tanpa masyarakat, tidak ada masyarakat tanpa kepemimpinan, tidak ada kepemimpinan tanpa pemimpin (amir, imam, khalifah dll.).

Keyakinan ini menyebabkan tidak disaringnya kebenaran yang diajarkan pemimpin mereka.Kecenderungan untuk " taklid " atau semua yang dikatakan pemimpin selalu benar, sangat besar.Sehingga fanatisme kelompok sering terjadi.

Kelompok sempalan dapat berkembang menjadi agama sempalan.Bahkan cenderung menganggap ajaran lama harus dieliminasi karena dianggap salah.Sikap yang demikian kerap kali mengundang konflik karena jama ' ah agama mainstream pasti merasa keyakinan mereka terlah ternodai.Seperti yang ditunjukkan Lia Aminudin.Dari mengaku sebagai nabi baru, menjadi sebagai " titisan " malaikat Jibril atau ruhul kudus.Menurut Lia Aminudin, agama lama ( Islam, Nasrani dan Yahudi) dianggap salah dan harus dihapus.

Meskipun ajarannya berasal dari ketiga agama tadi (dalam Abd.Moqsith Ghazali-situs JIL).Lia Aminudin hampir menjadi sasaran kemarahan masyarakat apabila tidak segera diamankan dan diadili. Kelompok sempalan, agama sempalan atau wali sempalan akan selalu muncul seiring perkembangan sejarah kemanusiaan.

Ketidakpuasan kelompok di dalam agama akan selalu ada.Ditambah lagi adanya sebagian umat beragama yang tidak mampu mengambil simpati jama ' ah lain.Meski begitu kita harus tetap saling menghormati, bukannya sebaliknya saling menyalahkan dan akibatnya terjadi konflik yang berkepanjangan.

Ajaran Itu

Sudah kita sepakati bahwa demokrasi menjadi ajaran.Serat yang tertulis tanpa tinta.Bahkan sebentar setelah kemerdekaan 1945 dikumandangkan.Meski tanpa teks maupun tanda tangan dibubuhkan.Kesepakatan itu, tidak kita persoalkan.Sampai saat ini, mulai dari lahirnya.

Dulu pernah lahir Komunisme, Marxisme-Lenninisme atau Neo-Lib maupun konsep NASAKOM.Namun cuma menjadi bagian dari sejarah.Yang pernah menjarah.Perjalanan negeri ini.

Demokrasi telah menjadi ibu bangsa kita.Menyakiti berarti sama saja dengan mengundang kutukan.Bukan buat siapa-siapa, tetapi buat kita sendiri.

Memang, demokrasi bukan ilahiyatul masdhar, atau bersumber dari Tuhan.Tetapi demokrasi lahir untuk menciptakan keadilan.Bukan menumbuhkan kekuatan yang sepihak.Dengan memandang setiap yang menguntungkan adalah kawan.Dan siapapun yang tidak menguntungkan disebut lawan.Meski sesaat, sumpah itu telah merasuk ke dalam jiwa para pemegang kekuasaan.Pada Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif.Ibarat, 'menjilat ludah sendiri ', tanpa ragu dan malu mereka pertontonkan.Ketika pagi bicara ke barat.Tetapi siang mereka menghentikan langkah, mendadak memutar arah.Sumpah itu.Fenomena itu telah biasa.

Jangan mengira bahwa rakyat masih tuli dan buta.Meski cuma dari balik terali besi mereka masih mampu mendengar dan menyaksikan kemunafikan.Rakyat punya rasa, mereka masih mempunyai hati nurani.

Para pendiri negeri ini tentu akan menangis .Meneteskan air mata.Apabila menyaksikan masih adanya ketimpangan.Dalam bidang hukum, ekonomi, politik maupun media yang terkadang lebih menyuarakan ' Kapitalisme' daripada kebenaran.

" Kekayaan Negara dipergunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyatnya ".Ayat itu dalam UUD 1945 sering disakralkan.Menyentuhpun harus menggunakan biaya besar.Sebagaimana amandemen yang sekian kali disepakati.Tetapi mengapa kita tidak mampu menemukan maknanya?Mengapa semua seakan sirna, menguap tiada terungkap?

Demokrasi adalah sebuah laku.Langkah suci menuju tatanan kesejahteraan.Dengan berdemokrasi masyarakat dituntut untuk saling menghargai.Kita harus mampu bersikap mutawasith atau moderat.Meski berbeda dalam agama, suku maupun keturunan.Hak asasi menjadi barang berharga karena diyakini sebagai nilai dasar kemanusiaan.Kebebasan dengan dibatasi kepentingan orang lain harus bisa berjalan.Pada tempatnya dan pada norma yang sudah ada.

Tetapi demokrasi juga dapat berkata lain.Yang berarti pengkhianatan.Meski terhadap bangsa sendiri.Sehingga demokrasi menjadi rancu dan ambigu.Seakan buta sehingga tidak dapat melihat yang seharusnya terlihat.Atau tuli karena tidak mampu mendengar yang sebenarnya mampu didengar. Begitulah demokrasi dengan seribu makna yang mengiringi langkahnya.Akan menjadi surga atau neraka.Atau kembali melahirkan bayi kediktatoran, ketika sang penguasa enggan berganti masa.Sekarang tergantung kita bagaimana memaknainya.

Politics


Dalam dunia politik dikenal dua istilah.'' Day to day politics '' dan '' Morality Politics ''.

Day to day politics, dilakukan dengan cara pragmatis, karena mempunyai tujuan jangka pendek.Dan kemenangan selalu menjadi target utama.Bahkan kebenaran seringkali dinafikan.Tindakan yang bertentangan dengan norma,hak asasi manusia atau budaya, seringkali dipolitisir supaya seakan-akan tidak berseberangan.

Sedangkan morality Politics, mempunyai tujuan jangka panjang.Kebenaran menjadi tujuan yang tidak dapat ditawar.Yang menjadi ukuran adalah moral,norma dan hak asasi manusia.Morality Politics hanya dapat dilakukan oleh para politisi yang betul-betul mampu merealisasikan hati nurani.Meskipun kebenarannya dapat dibuktikan jangka panjang.

Yang menjadi persoalan adalah, tayangan politik yang dapat kita saksikan secara langsung di televisi, merupakan day to day politics atau morality Politics?

Kalau termasuk yang kedua, maka kita akan menjadi bangsa yang mulia.Tetapi apabila termasuk yang pertama bagaimana?

Perang Suci


Ketika jihad hanya selalu bermakna '' qital '' atau '' to kill ''(membunuh).Maka agama tidak lagi bermakna sebuah penyerahan diri.Sebuah perjalanan menuju kebenaran dalam sikap '' taslim ''(ketundukan).

Atau ketika kita tidak lagi menemukan makna lain dalam memandang perjuangan selain sebagai '' holy war ''(perang suci).Maka agama tidak lagi sebagai sebuah keserasian, antara diri dengan alam yang terbungkus keyakinan, seperti kata Mc Taggart, dalam definisi makna agama.

Ketika itu juga kita terjebak ke dalam '' fundamentalisme literal'' atau '' fundamentalisme tekstual ''.Dan ketika itu pula tujuan beragama tidak lagi menjadi '' hanif ''(mendekat), padahal beragama seharusnya adalah kondisi jiwa yang '' natural'' dan kebutuhan manusia yang esensial.

Suicide Bombing


Perjalanan itu tidak akan pernah berhenti meski hanya satu titik.Sebagaimana proses kelahiran, kematian adalah jalan menuju keabadian.Dari raga yang serba fana, jiwa terurai dalam imanensi.Bagi sebagian diri, ada janji yang tak terperi.Tentang surga dan neraka.Tetapi buat diri yang lain, keikhlasan lebih membawa ketentraman dalam menemukan, '' Yang Paling Awal dan Paling Akhir ''.

Kesucian laku menuju kesejatian, telah ternodai oleh sebuah langkah yang salah arah.Langkah yang kurang terarah, yang melawan kepasrahan.Laku itu tidak lagi sebagai cahaya bagi penenteram jiwa.Tetapi lebih kepada pemaksaan subyektifitas diri yang serba egois.

'' Suicide Bombing '', adalah jalan yang melawan diri sendiri.Jiwa yang seharusnya merdeka, telah terjajah oleh egoisme.Dengan dalih kebenaran, dari mereka yang menganggap kemuliaan tentang jalan itu.Mereka tidak lagi menuju kepada cahaya kemuliaan tetapi telah menjerumuskan kesucian kedalam kegelapan.

'' Pluralisme '', tidak lagi dapat ditawar.Demi, membuka mata yang telah buta.Atau, membisiki telinga yang hampir menjadi tuli.Kebenaran itu tidak akan ditemukan dalam sudut yang serba sempit.Karena ia sebuah misteri yang membuat diri menjadi dewasa.Bukan diri dengan pemaksaan kehendak tanpa mau mengerti orang lain.

Bersembunyi Di Balik Pesan Suci

Keimanan merupakan realisasi kebutuhan setiap manusia akan religiusitas.Karena keimanan bersifat personal maka seringkali logika tidak mampu mengalahkan ketundukan hati dalam menerima kebenaran tanpa bukti konkrit maupun analisa ilmiah sebelumnya.

Dan, keimanan membutuhkan realisasi yang dapat diindera oleh setiap individu karena merupakan sebuah identitas.Yang seringkali ditunjukkan dengan simbol-simbol sebagai tanda bukti adanya eksistensi di dalam masyarakat.Simbol tersebut dapat berupa pakaian, tempat ibadah, sistem pemerintahan, sistem bisnis dan lain-lain.Kita dapat melihat hal ini dalam simbol agama.

Tetapi, ketika simbol religiusitas telah dibawa ke ranah politik, tidak jarang nasibnya sangat menyedihkan.Dalam partai politik misalnya, simbol agama dapat dijadikan sebagai alat untuk meraih suara sebanyak mungkin ketika berkampanye.Padahal banyak sekali para politisi yang telah menggunakan simbol agama, sama sekali tidak pernah merealisasikan janji mereka ketika sudah terpilih, baik menjadi Dewan maupun Kepala Daerah.

Lebih menyedihkan lagi ketika simbol agama dijadikan alat para koruptor untuk mengelabuhi publik demi memunculkan citra agamis.Sebagai contohnya, para pejabat yang mendirikan tempat ibadah, naik haji, memakai surban atau kegiatan religi yang lain tetapi menggunakan uang hasil korupsi.

Boleh jadi para nabi sangat berduka seandainya masih hidup di jaman yang serba tidak pasti ini.Pesan suci dari Yang Serba Maha, justru dijadikan tirai untuk menutupi kedhaliman dan kemunafikan.Kitab suci tidak lagi berisi ayat-ayat sakral karena keluar dari mulut yang tidak bertanggung jawab.

Suatu saat nanti, publik pasti mengerti permainan para politisi yang berkedok simbol agama demi eksistensi mereka.Atau, setidaknya Tuhan akan menurunkan karmaNya demi menunjukkan keadilan di muka bumi ini.Tidak mudah menjadi pemimpin amanah.Tidak cukup dengan kerudung, surban maupun gelar haji.Tetapi amanah akan punya nilai ketika dapat terealisasi secara konkrit dalam moralitas yang tinggi.

Kembali Ke Priok

                                                            (Foto: gatotyudiarto)


Dalam Tajuk Rencananya, Kamis (15/4/2010), Kompas menyindir, boleh jadi bentrokan antara Sapol PP dengan warga di Koja, sebagai isu untuk memecah konsentrasi publik pada kasus markus yang ramai dibicarakan di media.Jika hal itu benar, maka terlalu mahal harga yang harus dibayar.Bukan hanya harta benda tetapi juga nyawa.

Peristiwa di Koja sangat tidak berperi kemanusiaan, sebab memuncak pada semangat " nyawa harus dibayar dengan nyawa ''. Peristiwa mengerikan yang berlangsung beberapa jam tersebut, disiarkan langsung dua stasiun televisi, Metro TV dan TV One.Di mana, aparat Satpol PP dengan geram mngeroyok seorang pemuda yang tertangkap.Kemudian dianiaya dengan pukulan maupun tendangan sepatu lars tanpa belas kasihan.Seorang jurnalis berteriak histeris berusaha menghentikan penganiayaan tersebut.Ironisnya, korban masih anak-anak yang berumur belasan tahun.Darah mengucur dari luka tubuh pemuda yang sudah tidak berdaya itu.Beruntung,beberapa anggota polisi masih sempat mengamankan dan membawa ke mobil ambulance.

'' Darah telah tumpah, nyawa harus dibayar dengan nyawa'', begitu teriak warga Koja yang mengamankan makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad atau yang dikenal dengan nama Mbah Priok.Konon, dari nama itu pula pelabuhan di Jakarta Utara tersebut dinamakan Tanjung Priok.Selang beberapa jam, setelah aparat Satpol PP dan polisi selesai beristirahat, mereka melintasi gerbang makam menuju pelabuhan.Kontan, massa yang sudah emosi balas menyerang.Beberapa anggota Satpol PP yang tidak sempat menyelamatkan diri menjadi bulan-bulanan warga.Mereka memukuli aparat yang tertangkap menggunakan kayu, batu, besi atau apapun yang dapat dijadikan senjata.Lagi-lagi, darah mengucur, tapi kali ini dari sang aparat yang tertangkap warga.

Malam harinya, detik.com melaporkan, ada salah seorang anggota Satpol PP yang meninggal di terminal petikemas dan belum dievakuasi.Karena yang lain dievakuasi melalui jalur laut, guna menghindari bentrokan kembali.Beberapa media online yang lain menulis, bahwa belum ditemukan korban meninggal dunia malam itu.Seperti yang ditulis Kompas.com, di Rumah Sakit Koja tidak dotemukan korban meninggal dunia.

MetroTVnews.com menulis, peristiwa Koja pada (14/4) menunjukkan kegagalan Gubernur DKI dalam mendidik aparat Satpol PP, sehinnga masih bertindak arogan.Dan, selayaknya Gubernur bertanggung jawab atas tragedi ini.Tragedi yang mengharuskan warga dan aparat mengucurkan darah.

Keesokan harinya,setelah tragedi Koja, pers, khususnya televisi menayangkan penyesalan.Tayangan kesedihan dari keluarga yang ditinggalkan korban.Anak, istri, saudara serta teman dekat hanya bisa bersedih atas peristiwa tersebut.Baik itu dari keluarga aparat maupun warga Koja.Sebagaimana diberitakan media, korban meninggal dunia akhirnya berjumlan tiga orang, semuanya dari aparat Satpol PP.Sementara luka-luka lebih dari seratus orang.

Wakil Gubernur DKI beserta para tokoh masyarakat dan agama mengadakan pertemuan, untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.Hadir pula perwakilan PT Pelindo yang nota bene berkepentingan atas tanah yang disengketakan.

                                             * * * *

Peristiwa di Tanjung Priok bukan kali ini saja.Pada tahun 1984 pernah terjadi pembantaian terhadap umat Islam oleh ABRI ketika itu.Di mana korbannya sekitar 400 orang meninggal dunia.Ditambah lagi yang luka-luka.Sebagaimana laporan Kontras.Meskipun hal ini dibantah oleh pemerintah, dengan mengatakan korban meninggal hanya belasan saja.Peristiwa itu dipicu faktor agama yang sangat sensitif bersinggungan dengan kekuasaan.

Tragedi Tanjung Priok tahun 1984 adalah masa lalu, ketika Indonesia masih di tangan sang diktator.Dengan terpaksa kita memberikan toleransi atas arogansi pemerintah yang terjadi ketika itu.Sedangkan kini, reformasi sudah kita sepakati, dengan tujuan menegakkan demokrasi.Yang digulirkan pada Mei 1998 dan telah dibayar dengan darah pula oleh para mahasiswa.Apakah perjuangan menuju demokrasi ini akan kita isi dengan arogansi kembali.Kita hendaknya belajar dari sejarah.Kekerasan tidak akan efektif untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.Dialog dan jalur hukum lebih manusiawi daripada harus saling pukul.Apalagi dengan sesama bangsa sendiri.

Darah, apakah kata itu akan selalu mengiringi penyelesaian dalam persoalan sosial kemasyarakatan.Terkadang, darah yang mengalir justru berasal dari individu yang tidak terkait dengan peristiwa yang terjadi.Apalagi punya kepentinga mengambil keuntungan.Perjuangan melawan penjajahan juga harus dibayar dengan pertumpahan darah ketika berdirinya negeri ini.Tetapi tidak untuk melawan bangsa sendiri.

Sekali lagi, kekerasan hanya akan menyisakan penyesalan.Sudah waktunya kita kembali kepada hatinurani.Semua sudah lelah dengan pertikaian yang memalukan ini.

BERSEMBUNYI DI NEGERI SENDIRI


                                                                    (Foto:poskota)


Kita yang telah menerima kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 secara legal formal, namun faktanya sampai saat ini masih terjajah.Ketika rakyat Mesir berjuang untuk menegakkan demokrasi, kita di sini justru mengotorinya dengan sikap intoleransi antar agama.Penyerangan terhadap kelompok aliran apapun seharusnya dilarang oleh negara khususnya Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Bukan waktunya lagi membatasi pemikiran dengan ancaman dan tindakan penyerangan.Pemikiran seharusnya dilawan dengan pemikiran.Pesan dalam UUD 1945 mengenai mencerdaskan kehidupan bangsa selayaknya dipahami sebagai perang pemikiran, bukan adu otot serta adu jotos.Bukankan kita bangsa yang beradab; bukan kalangan Barbarian?

Apakah kita akan tetap mengalami kondisi yang mencekam; hanya karena mempelajari ilmu ke-Tuhanan yang sedikit berbeda dengan umat mayoritas?Agama yang sejatinya dianut lebih karena warisan yang telah membudaya, sering dipahami secara dangkal dengan justifikasi hitam dan putih.Persoalan keyakinan boleh saja didasarkan pada keturunan semata, tetapi pencarian kebenaran adalah tindakan asasi manusia yang tidak dapat dihakimi oleh pihak lain.Persoalan keyakinan merupakan wilayah eskatologi yang tidak dapat dibuktikan secara kasat mata.Keyakinan hanya ada di dalam hati nurani dan masing-masing pasti berbeda dalam mengilustrasikannya.Sekalipun umat seagama atau sekeyakinan.Apa yang kita pikirkan tentang Tuhan, pasti berbeda dengan yang dipikirkan orang lain.Karena Tuhan erat sekali dengan kebenaran.Dan wilayah kebenaran sangat jauh dari sentuhan fisik semata.Sekalipun kita mampu mendefinisikan ke dalam kalimat, tetapi hati kita mempunyai gambaran yang sebagian tidak dapat diwakilkan.Oleh hanya sekedar bahasa formal manusia.

Sikap kritis mengenai keyakinan telah mengalami kemunduran; justru ketika demokrasi mulai ditegakkan di negeri ini.Situasi ini tidak jarang menimbulkan spekulasi pemikiran adanya mastermind (dalang) di balik setiap aksi penyerangan.Mulai dari pengalihan isu sampai adanya intelijen asing yang bermain.Dengan tujuan mendiskreditkan agama tertentu. Burhanudin Muhtadi menyebut kejadian kekerasan yang akhir-akhir ini marak terjadi dengan istilah '' Revolusi Senyap ''.Sebuah istilah yang menggambarkan kekerasan yang meledak karena kebencian satu kelompok terhadap kelompok lain.Yang menarik, kekerasan semacam ini justru tidak terjadi pada era Orde Baru.

Burhanudin Muhtadi mengatakan, ketika rezim Suharto berkuasa gerakan semacam ini mendapat tekanan serta tidak diberi kesempatan untuk berkembang.Setelah reformasi 1998 demokrasi tegak namun kewibawaan negara melorot.Ironisnya law enforcement ikut terpuruk.Dalam kajian sosiologi ada beberapa kelompok yang telah dibenci oleh masyarakat, yakni: Komunis, Yahudi dan Nasrani.Ketika ada persoalan dimasyarakat yang berhasil digiring kepada isu ketiga kelompok tadi maka kerusuhan mudah sekali diciptakan.Dengan tindakan main hakim sendiri.

Sedangkan Azzumardi Azra memandang kerusuhan yang terjadi disebabkan oleh persoalan ideologis.Yaitu paham keagamaan yang tidak memberikan ruang perbedaan.Ditambah lagi para tokoh agama yang merestui kekerasan ini.Apalagi didukung oleh fakta bahwa pejabat publik yang memihak akan mendorong masyarakat melakukan kekerasan.Pemahaman keagamaan semacam ini oleh Azzumardi Azra di sebut sebagai sempit dan hanya memakai kacamata kuda.Setiap ada konflik sifatnya transnasional atau adanya pihak luar yang ikut bermain.

Ce’the’: Cara Unik Menikmati Kopi

                                                                   (Foto: unicidea)

Bagi orang Jawa Timur menikmati kopi tidak hanya meminumnya.Namun ada kebiasaan unik yaitu ce’the’ atau nye’the’.Salah satunya kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Tulungagung.Warung kopi yang terkenal yakni warung kopi Waris.

Ce’the’ merupakan kopi yang dioleskan pada sebatang rokok dengan motif seni.Bentuknya bisa batik atau gambar yang lain.Caranya adalah, kopi dituang di atas piring kecil, orang Jawa biasa menyebutnya lepek.Airnya diminum sampai habis.Sisa kopi yang masih tertinggal di lepek dikeringkan pakai kertas koran.Setelah dirasa cukup kekentalannya maka kopi siap digunakan untuk nyethe sebatang rokok.

Kopi yang digunakan untuk ce’the’ tidak asal kopi.Melainkan menggunakan resep tersendiri.Bahan yang ditambahkan ke kopi antara lain, kacang hijau, kelapa, susu dan lain-lain.Sebagian warung kopi di Tulungagung merahasiakan resep andalan mereka.Tekstur kopi yang digunakan juga harus halus agar mudah menempel pada rokok.

Bagi para penggemar kopi ini, nye’the’ merupakan proses pembuatan karya seni.Dengan media sebatang rokok dan tintanya bubuk kopi yang telah dihaluskan. Warung ce’the’ dapat ditemukan dengan mudah di Tulungagung dan sebagian wilayah Jawa Timur.Karena minum kopi menjadi kebiasaan masyarakat yang sudah melekat.Konsumennya berasal dari berbagai kalangan.Dari tua, muda serta berbagai macam profesi.

Budaya ce’the’ atau nye’the’ juga dapat ditemukan di Kabupaten Pati Jawa Tengah.Beberapa tahun yang lalu warung kopi cethe banyak terdapat di sekitar alun-alun pati.Masyarakat Pati juga banyak yang menyukai rokok yang dilukis dengan kopi ini.

Dalam perkembangannya warung kopi cethe di Tulungagung sudah dikelola secara profesional.Untuk menarik konsumen para pelayan terdiri dari gadis-gadis yang masih muda dan cantik tentunya.Warung kopi juga menyediakan berbagai macam pilihan rasa kopi sesuai selera pembeli.Ada yang rasa susu, jahe, kacang ijo dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu tidak ada salahnya anda mencoba menikmati keasyikan minum kopi sambil nye’the’.  

DALAM LABIRIN

                                                                        foto:idrus

Labirin itu telah membuat keningku semakin berkerut.Apakah masih ada kelindan atau telah terurai.Meski dalam imanensi, aku masih berjarak.Diktum itu belum juga aku temukan.

Waktu yang tanpa batas tidak mampu melepasku dari kefanaan.Sementara ruang masih tertata dengan setiap entitas yang melingkupinya.

Aku terbelenggu bersama ilusi.Sampai saat ini, barangkali jiwaku belum terjaga.Dalam ontologi kehidupanku seakan menuju eskatologi.Yang tidak mampu aku pahami hanya dengan filosofi.

Sebuah ekstase yang harus aku urai.Dengan kesadaran dari dalam diri, meski semuanya terhalang oleh tabir.

Sabtu, 15 Desember 2012

Nasehat Kematian


                                                     (Foto: yusufaljogjawi)


Kematian adalah nasehat apabila kita merenungi dengan kesadaran sepenuhnya.Bahwa apapun yang ada di bumi dan di langit tidak ada yang abadi.Dan dalil di dalam kitab suci mengenai setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati merupakan fakta yang tak terbantahkan lagi.Kematian itu nyata dan kematian itu memang ada.

Kematian sering kita lupakan dengan membohongi diri sendiri.Kematian kerap kita nafikan dengan bersembunyi dari hati nurani.Terkadang kita sangat percaya diri bahwa kita akan hidup seribu tahun lagi.Kita tidak akan dijemput malaikat maut nanti, besok atau kapanpun.Kita sering bermimpi mengenai keabadian.Kita sering menghayal tentang kesuksesan duniawi.Tetapi kita lupa bahwa kematian bisa kapan saja menghampiri.Kematian tidak dapat diprediksi oleh siapapun dan dengan cara apapun.

Kematian bukan untuk kita takuti.Kematian juga tidak mungkin dapat kita hindari.Tetapi kematian dapat kita jadikan nasehat untuk tidak mendhalimi orang lain.Kematian dapat kita jadikan sebagai peringatan untuk tidak mengambil hak-hak orang lain.Kematian dapat kita jadikan sebagai pendorong untuk selalu menciptakan keadilan.Kematian, sesungguhnya mengingatkan kita dari mana berasal dan akan ke mana kita kembali.

KEKERASAN UMAT BERAGAMA


                                                           (Foto: jawaban)

Barangkali tidak berlebihan, pernyataan yang menyatakan bahwa agama diibaratkan sebagai pisau yang bermata dua.Agama bisa ditafsirkan sebagai kesantunan, cinta kasih maupun kedamaian.Di sisi lain agama sering dijadikan alasan pembenar dalam tindakan kekerasan terhadap umat yang berbeda. Saya tidak menyalahkan agama an sich, meskipun mengiyakan ibarat '' pisau bermata dua '' tadi.Tetapi saya ---sebagai orang yang beragama---tidak bisa memahami jalan pikiran para penafsir ayat-ayat;dengan terjemahan '' legalisasi kekerasan ''.Apapun alasannya, baik menyangkut kemaksiatan, aliran yang dianggap sesat, penodaan agama tertentu dan lain sebagainya.

Sebagai bagian dari peradaban manusia, agama sering menampakkan citra ironi.Tidak lagi ideal seperti ketika para pambawa agama (Nabi/Rasul) ketika mengemban tugas dari Tuhan, yang inti sarinya adalah menyebarkan perdamaian.Agama juga kerapkali dijadikan ajang kampanye partai.Hal ini sering disebut sebagai praktek '' politisasi '' agama.Para juru kampanye tidak segan-segan mengutip ayat kitab suci, demi meyakinkan janjinya kepada para simpatisan.Meski, ada saja yang baru menghafal lafal ayat ketika mau ada kampanye partai.Politisasi semacam ini yang sebenarnya membahayakan citra ideal agama itu sendiri.Sebagai norma atau konstitusi non formal, agama seharusnya tetap berada pada wilayah yang independent tanpa ada yang berhak mempolitisir isinya.Boleh jadi inilah yang dinamakan agama yang tidak murni lagi (tidak puritan), di luar hal-hal yang berbau fiqh yang selama ini dikritik Muhammadiyah.

Kembali kepada tindak kekerasan yang dilakukan sebagian umat Islam terhadap umat agama lain; negara sebagai institusi resmi seharusnya memberikan perlindungan kepada setiap warganya yang hidupnya terancam.Apalagi telah mendapatkan perlakuan penganiayaan.Karakter sosiologis bangsa ini menunjukkan adanya tirani mayoritas terhadap minoritas.Sikap ini menimbulkan in toleransi antar umat beragama.Perbedaan tidak disikapi dengan cara dialog namun semakin diperparah dengan tindakan fisik penyerangan. Lembaga resmi keagamaan seperti MUI, juga sering menyampaikan pernyataan yang tidak fair.Dengan fatwa pengharaman kelompok tertentu lembaga itu secara tidak langsung telah memberikan angin segar bagi pelaku kekerasan.Fatwa MUI dijadikan dasar untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok yang dianggap sesat.Sebagian umat beragama sering bersikap berlebihan dalam menilai aliran yang terus berkembang di Indonesia.

Istilah '' sesat '' begitu mudah dituduhkan kepada mereka yang mencoba berpikir hal yang baru menyangkut kayakinan.Karena faktanya, pemaknaan terhadap agama yang sudah ada sekarang terasa kering dan tidak mampu memberikan solusi persoalan sosial.Sudah bertahun-tahun kita bangga sebagai bangsa yang beragama namun persoalan korupsi dan kemiskinan tidak juga dapat diselesaikan.Setiap tahun kita menyaksikan umat yang mampu menunaikan ibadah haji; tetapi kita juga disuguhi dengan pemandangan yang menyedihkan menyangkut perekonomian.Begitu juga persoalan korupsi yang nota bene dilakukan kalangan yang agamis dalam hidupnya sehari-hari.Kalau diteliti, para koruptor tidak ada yang tidak mengakui adanya Tuhan, meskipun barangkali hanyalah lipstik karena pengaruh lingkungan dan budaya.

Pemikiran abad pertengahan atau 1500 tahun yang lalu oleh sebagian umat beragama dicoba untuk diterapkan di era sekarang.Kontan saja menimbulkan pergesekan nilai.Karena tidak lagi sesuai dengan kondisi yang ada.Improvisasi dalam memandang agama dianggap barang haram, padahal inilah yang sebenarnya diperlukan masyarakat.Sikap kaku dan arogan tidak popular lagi untuk diterapkan masa kini.Penafsiran para ulama jaman dahulu dapat dijadikan sebagai pembanding dalam memahami ilmu keagamaan.Dan seyogyanya tidak serta merta untuk diterapkan di era sekarang.Kita harus kembali kepada hati nurani.Bahwa agama sejatinya adalah penebar kedamaian bukan penyebar kebencian seperti yang belakangan terjadi.Makna ayat dalam kitab suci mengenai qital (pembunuhan), harb (perang) ataupun yang lain-lain tidak selalu identik dengan tindakan fisik.Begitu juga dengan '' jihad '' dan '' syahid ''.Kita juga bisa memaknainya denga '' ijtihad '' yang akan melahirkan '' mujtahid ''.Maknanya juga berisi '' jihad ''tetapi menyangkut pemikiran dan hal-hal yang lebih rasional.Jihad memang perang namun tidak harus bermakna qital (to kill) atau pembunuhan secara fisik.Kita seharusnya mampu membunuh para imperialis seperti Amerika yang telah melakukan penjajahan terhadap budaya, misalnya.Pembunuhan budaya dapat dilakukan dengan counter baik pemikiran maupun budaya tandingan yang lebih meng-Indonesia.

Jumat, 14 Desember 2012

BENCANA DAN KUASA TUHAN


Ratusan kepala keluarga korban bencana erupsi Gunung Merapi di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta nekat membangun rumah permanen dan menempati rumah di Kawasan Rawan Bencana III Merapi (Foto: pdk)


Berbicara mengenai hubungan antara bencana alam dengan kuasa Tuhan barangkali akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan.Karena bencana adalah realitas sedangkan kuasa Tuhan lebih bersifat doktrinal.Bagaimana menghubungkan sebuah realitas yang kasat mata dengan doktrin yang metafisika?Mungkinkah ada relasi antara bencana alam-- yang dapat dipahami dengan ilmu empiris-- dan kuasa Tuhan yang berdasar keyakinan?Apa manfaatnya menghubungkan antara keduanya?

Perbedaan penilaian juga kita temukan; antara perspektif para ilmuan dengan perspektif ahli agama dalam memahami bencana yang beberapa tahun ini sering terjadi.Ilmuan memandang dengan pendekatan metodologi yang logis dan rasional serta menawarkan berbagai macam teori untuk menyelesaikan persoalan.Sehingga tindakan yang dilakukan lebih kepada penanganan pasca bencana serta antisipasi agar apabila bencana kembali melanda dapat diimbangi dengan teknologi yang ada.Tindakan para ilmuan lebih konkrit dan obyektif karena fokus kepada persoalan.

Sedangkan ahli agama memandang bencana dari sisi psikologis manusia.Keterbatasan kemampuan manusia dalam memahami setiap realitas yang terjadi--termasuk bencana--dapat dijadikan alternatif dalam memahami realitas.Bahwa tidak setiap yang terjadi dalam sejarah dapat dipahami secara logis dan rasional.Ada sisi lain dari jiwa manusia; yakni pengakuan adanya kekuatan di luar manusia yang serba maha.Meski begitu bagi sebagian masyarakat, pendekatan para ahli agama yang doktrinal tersebut juga berpengaruh terhadap perilaku sehari-hari.Tidak jarang mereka yang dapat menyerap doktrin akan melakukan tindakan-tindakan yang lebih baik yang juga berpengaruh kepada hubungan sosial dalam masyarakat.

Dan yang lebih bermakna ketika kita dapat memahami bencana yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari hubungan manusia itu sendiri dengan alam yang ditempati.Baik pemahaman yang disampaikan para ilmuan maupun kalangan agamawan akan bermanfaat apabila kita dapat memahami dan melaksanakan hubungan baik dengan alam.

Kehidupan; yang meliputi mikrokosmos dan makrokosmos; sadar atau tidak sadar mempunyai saling keterkaitan.Keterkaitan antara mereka harus tercipta hubungan yang mutualisme, yang artinya terjadinya keseimbangan.Apabila keseimbangan telah tercerabut maka salah satu entitas yang melingkupi akan melakukan pemberontakan.Dan pemberontakan yang ditunjukkan oleh alam dapat berupa bencana seperti yang kita lihat dan alami sekarang ini.

Universitas Patangpuluhan

 [Gb:Emha Ainun Nadjib (lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953; umur 59 tahun) adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi./foto:ichwankalimasada]                            


Ketika itu Jumat malam, tepatnya tanggal 17 Desember 2010, hujan sepanjang siang tak henti-hentinya mengguyur Yogyakarta, termasuk kota Bantul.Kota yang terletak di sebelah selatan provinsi DIY itu mempunyai ciri tersendiri, khususnya pada tanggal 17, setiap bulannya.

Bertempat di pelataran sebuah TK dengan nama Alhamdulillah, terlihat ribuan orang berkumpul.Dari segala penjuru dan segala kalangan.Dari tukang becak, pengangguran, mahasiswa, seniman, tentara, pejabat, pengusaha dan masih banyak lagi.Para wanita, ada yang berjilbab atau tidak, yang laki-laki ada yang memakai peci, surban, berjenggot, tidak berjenggot, memakai celana di atas mata kaki atau tidak,sampai yang mengenakan jeans atau batik, dari yang pinter atau setengah pinter, dari yang gagal atau yang sukses.Usianya mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek, bertemu tanpa ada yang mengundang karena memang sudah terbiasa dengan acara seperti ini. Malam itu, terdengar sayup-sayup Shalawat kepada Nabi yang dilantunkan dengan merdu oleh budayawan Emha Ainun Najib yang akrab disapa Cak Nun.Dengan busana serba putih, ia bernyanyi diiringi alunan gamelan kontemporer Kiai Kanjeng.Hujan yang sejak siang mengguyur, malam itu sudah reda, meski tanah yang mereka pijak masih tampak basah namun tidak menyurutkan langkah para Jamaah Maiyah.

Malam itu berkumpul para alumni " Universitas Patangpuluhan ".Sebuah universitas yang tidak mempedulikan legalitas, apalagi formalitas maupun identitas.Kampus yang berdiri sekitar tahun 70 an tersebut direktori oleh Cak Nun yang ketika itu drop out dari Fakultas Ekonomi UGM.Nama Patangpuluhan diambil dari daerah yang di tempati." Kampusnya tidak memakai pintu, dari pagi sampai pagi lagi selalu terbuka.Tapi gak onok maling sing mlebu, lha wong jerone gak onok apa-apane ", kelakar Cak Nun dengan gaya Jombangan.Mahasiswa di kampus tersebut terdiri dari seniman, penulis, sastrawan, jurnalis, anak jalanan atau pengangguran.Mereka di sana berdiskusi berbagai persoalan yang menyangkut realitas sehari-hari sekaligus yang mereka alami.Dan, kampus ini pula yang melahirkan para alumni seperti Cak Nun serta yang lain.

Para alumni Universitas Patangpuluhan berbagi pengalaman ke para jamaah Maiyah.Mulai dari bagaimana mencari identitas dengan kondisi yang rata-rata drop out kuliah.Mereka mengatakan, dengan tanpa bekal ijasah formal ketika itu, mereka harus menjadi orang sakti supaya dapat bertahan hidup.Bagi mereka, terlibat langsung dengan masyarakat dengan berbagai latar belakang lebih bernilai daripada hanya berteori di belakang meja.Mereka terlibat langsung dengan realitas sosial di negara ini.Bagaimana rasanya hidup susah, terjepit, kadang makan kadang puasa, adalah realitas yang mereka rasakan.

Tetapi dari kampus inilah Maiyah terbentuk, yang sekarang sudah tersebar ke mana-mana dengan nama yang berbeda-beda, bahkan sampai ke luar negeri.Jamaahnyapun sekarang ribuan orang.Melalui media ini Cak Nun dan kawan-kawan serta Kiai Kanjeng merombak cara berpikir masyarakat mengenai pemahaman agama, politik, budaya, hukum dan lain sebagainya.Terkadang melakukan hal-hal yang kontroversial, seperti, dalam pengajian tersebut sering dinyanyikan lagu-lagu Gereja maupun nyanyian orang Yahudi.Tetapi itulah pluralitas yang dikemas sedemikian rupa sehingga tetap menyegarkan hati dan pikiran.  

MASYARAKAT FACEBOOK


                                                             (Foto: berita9)



Barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa jejaring sosial (social networking) adalah sebuah masyarakat.Apakah itu facebook, twitter dan lain-lain.Dalam sosiologi, masyarakat didefinisikan sebagai: kumpulan dari beberapa atau banyak individu yang melakukan interaksi dengan aturan tertentu.Kalau kita perhatikan syarat sederhana tadi,jejaring sosial sudah memenuhi kriteria layak disebut sebagai masyarakat.Masyarakat dalam jejaring sosial agak berbeda dengan masyarakat pada umumnya karena tidak dibatasi oleh faktor geografis.Dengan kata lain facebook atau twitter memiliki karakteristik sendiri, yakni dunia maya.Sebuah perwujudan yang mengabaikan faktor ruang, meski masih dibatasi oleh waktu.

Jejaring sosial dalam perwujudannya di dunia maya juga melakukan interaksi.Dengan facebook atau twitter, masyarakat ternyata mampu melakukan hal-hal yang juga dilakukan oleh masyarakat konvensional.Misalnya:berbisnis, saling tukar informasi, melakukan perkenalan, bertemu dengan teman lama dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan.Masyarakat dalam jejaring sosial oleh media sering dijadikan sebagai bahan dalam pemberitaan.Kasus Prita dan Bibit-Candra misalnya, merupakan contoh yang pernah diolah oleh media, yang akhirnya mempengaruhi kebijakan penegak hukum dalam mengambil kebijakan atas keduanya.Dengan kamajuan teknologi , masyarakat dalam facebook atau twitter lambat laun akan membentuk kebiasaan yang dinamakan budaya atau kebudayaan.Dalam bentuk yang lain, tidak seperti budaya sebelumnya.Bahkan, pola yang ada dalam masyarakat----konvensional----sejak lama dapat dirubah dengan melakukan interaksi manggunakan provider jejaring sosial.Ditambah lagi pola interaksi masyarakat konvensional yang sudah mengalami banyak kendala sekaligus hambatan.Persoalan kemacetan di jalan salah satunya.Meskipun sekarang baru mendominasi kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya atau Medan, nantinya juga akan menimpa kota-kota lain di Indonesia.Kemacetan merupakan persoalan seruis dalam negara.Akibat kemacetan, roda perekonomian maupun pemerintahan sangat terganggu.Kecepatan dan ketepatan waktu sering terbuang sia-sia dengan adanya kemacetan.

Orang Eropa tidak mau lagi adanya batasan ruang dalam interaksi keseharian.Mereka menuntut untuk dihilangkannya batas-batas negara dengan tujuan akses untuk ke luar wilayah di kawasan Eropa bisa lebih mudah.Konsep negara hanya dijadikan indentitas semata, sebagai pembeda------tempat di mana mereka dilahirkan.Mata uang Euro adalah salah satu antitesa dari batasan yang selama ini dianggap sebuah belenggu.Masyarakat pengguna jejaring sosial sebenarnya juga bisa melaksanakan seperti yang biasa dilakukan masyarakat konvensional.Tinggal membangun strukturnya.Perekonomian yang nota bene adalah tonggak kebutuhan manusia, juga dapat dijalankan dengan jejaring sosial.Hal ini akan lebih efektif karena menghemat biaya serta waktu.Kita tidak perlu ke mana-mana hanya untuk membeli sesuatu.Begitu juga dalam hal pemerintahan.Masyarakat jejaring sosial juga dapat menciptakan struktur pemerintahan dengan model tertentu.Sehingga perang dengan alasan geografis tidak akan kita dengar lagi.Terciptanya struktur masyarakat jejaring sosial dapat dijadikan alternatif dari bentuk masyarakat yang sudah ada.Kita sudah merasa jenuh dengan pemerintahan yang korup, pemilihan kepala daerah atau anggota legislatif yang memakan biaya besar namun hasilnya nol besar pula.Dengan pola tersendiri, dunia maya dapat membentuk masyarakat bahkan pemerintahan yang lebih rasional dan efektif.Tidak hanya mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu di mana hasilnya tidak lebih baik.

Dunia global memungkinkan pemikiran gila seperti ini.Dalam masyarakat dunia maya, juga akan diangkat Presiden, menteri-menteri, bupati dan seterusnya, secara online.Alam, seandainya mampu berteriak, sudah amat jenuh menyaksikan kekonyolan yang dilakukan manusia selama ini.Tindakan yang seringkali hanya merugikan pihak lain tidak juga dapat dihilangkan, sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang.Dengan menciptakan dunia sendiri, subyek----manusia-----memiliki alternatif untuk melakukan perubahan.Bukan hanya revolusioner tetapi supra-revolusioner.Namun, pertanyaannya apa mungkin hal ini dilaksanakan?

REFLEKSI MEI '98


Gb:Protes mahasiswa menolak Sidang Istimewa MPR dengan tentara pasukan marinir mengamankan kerusuhan yang terjadi di sekitar Jembatan Semanggi, Jakarta, 1998.(Foto: hajingfai)



Sebegitu tajamkah pragmatisme menghujam dalam budaya kita?Sehingga para mahasiswa tidak lagi menjadi '' poros perubahan '', seperti ketika itu, tiga belas tahun yang lalu.Kini kita tidak dapat lagi menyaksikan keringat perjuangan atau darah kritisisme dari mereka.



                     Gb:Panser PHH ABRI pada kerusuhan Jakarta 14 Mei 1998(Foto: hajingfai)


Liberalisme; pun juga Kapitalisme telah menyebabkan para mahasiswa menjadi limbung menghadapi perubahan.Kampus-kampus telah menjadi pusat kesenangan, pusat kemewahan; perkuliahan menjadi jembatan melangkah menuju prestise semata.



  Gb:Massa membalik dan membakar mobil pada kerusuhan tanggal 14 Mei 1998 di jalan Hasyim          Ashari, Jakarta(Foto: hajingfai)

Apakah ini yang dinamakan menyesuaikan diri?Ataukah ini budaya yang salah kaprah dan salah arah?