Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Januari 2013

Ritual Unik, Ada 'Pengantin' Disembelih di Yogya!

                                                                 (Foto:Wendy S)


Dimuat di: detiktravel.com

Seram memang jika mendengar ada ritual menyembelih pengantin. Tapi, tenang saja, sebab pengantin yang disembelih bukanlah pengantin sungguhan. Boneka pengantin berisi gula Jawa dipotong pada acara Saparan Bekakak.

Saparan Bekakak dilaksanakan setiap bulan Safar sesuai penanggalan kelender masyarakat Jawa. Tahun ini, Saparan Bekakak jatuh pada tanggal 28 Desember 2012. Lokasinya di Desa Ambarketawang, Sleman, DI Yogyakarta.

Nama boneka yang disembelih adalah Pengantin Bekakak. Boneka ini dibuat dari ketan putih dan diisi gula Jawa. Maksudnya, agar nanti ketika dipotong, boneka akan mengeluarkan cairan berwarna merah layaknya darah.

Latar belakang ritual ini berasa dari legenda di masa lalu yang dipercayai masyarakat setempat. Singkatnya, penyembelihan Pengantin Bekakak dimaksudkan sebagai penolak bala supaya warga tidak diganggu penunggu Gunung Gamping. Namun menurut panitia, ritual yang dilakukan sekarang hanya sebagai tradisi belaka dan termasuk wisata budaya DI Yogyakarta.

Sebelum disembelih, Bekakak diarak terlebih dahulu. Boneka tersebut diiringi para Prajurit Bregodo, Ogoh-Ogoh, Wewe Gombel, Gendruwo, dan lain-lain. Pasangan Pengantin Bekakak diarak dari lapangan Ambarketawang menuju Gunung Gamping.

Saat upacara berlangsung, banyak wisatawan yang terlihat meramaikan Saparan Bekakak. Pokoknya asyik. Kalau Anda sedang main ke Yogyakarta saat bulan Safar, jangan lupa menyaksikan wisata budaya yang satu ini.

Kamis, 03 Januari 2013

Tahun Baru di Yogya, Wajib Datang ke Candi Ratu Boko

                                                             foto:wendy s


Dimuat di: detiktravel.com

Bagi Anda yang menghabiskan libur Tahun Baru di Yogya, datanglah ke Candi Ratu Boko. Candi yang sudah berdiri sejak abad ke-8 ini akan menghipnosis Anda. Dari sana, keindahan panorama Gunung Merapi dan kota Yogya terlihat jelas.

Ratu Boko merupakan situs arkeologi Kerajaan Mataram kuno pada abad ke 8. Situs ini diperkirakan sebagai cikal bakal berdirinya Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Masyarakat sekitar biasa menyebut dengan nama Candi Ratu Boko.

Karena terletak di atas bukit, maka Ratu Boko sering dijadikan sebagai tempat menyaksikan keindahan panorama Gunung Merapi maupun Kota Yogya. Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati sunset sambil minum teh hangat saat sore hari di sana.

Terdapat dua pintu masuk di Candi Ratu Boko. Pintu pertama berada di pinggiran jalan. Setelah kendaraan diparkir, kita dapat menempuh dengan berjalan kaki kurang lebih sepanjang 400 meter. Yang sering melewati pintu ini, biasanya para wisatawan yang membawa kendaraan besar seperti bus. Tarif parkirnya sekitar RP 10 ribu.

Sedangkan pintu kedua berada agak jauh dari pintu pertama dan terlebih dahulu harus melewati perkampungan penduduk. Jarak tempuhnya sekitar 1 kilometer, namun kendaraan dapat langsung mendekat ke lokasi situs. Tarif parkir di sini sebesar Rp 5.000 untuk minibus, sedangkan sepeda motor cukup dengan Rp 2.000 saja.

Sebelum masuk ke lokasi, kita diharuskan membeli tiket masuk sebesar Rp 25.000 untuk umum atau orang dewasa. Sementara anak-anak sebesar Rp 10.000.

Selama perjalanan menuju ke lokasi, kita akan disuguhi pemandangan taman maupun pepohonan yang rindang. Persis di dekat pintu masuk, terdapat tanaman mojo yang ketika itu sedang berbuah. Konon, pohon tersebut merupakan tanaman langka pada era Kerajaan Majapahit.

Di kanan kiri juga terdapat gazebo maupun kolam yang di tengah-tengahnya diberi pancuran air. Tidak jauh dari gazebo, terlihat beberapa ekor binatang rusa yang dikelilingi pagar kawat.

Lokasi ini sering dimanfaatkan wisatawan maupun fotografer untuk mengambil gambar. Jalan menuju situs agak menanjak, serta sedikit menguras tenaga kita. Namun jangan kuatir, di tempat ini banyak disediakan kran air yang dapat kita gunakan untuk mencuci muka, karena berkeringat ketika melewati tanjakan.

Selanjutnya, kita dapat menikmati situs Candi Pembakaran dan Sumur Suci. Di sini pernah ditemukan abu bekas pembakaran sehingga dinamakan Candi Pembakaran. Di sekelilingnya juga terhampar lapangan rumput yang menghijau serta Panorama. Lokasi ini dijadikan pijakan untuk melihat keindahan Gunung Merapi, Candi Prambanan yang tidak jauh dari situs, dan kota Yogya pada sore hari. Dan sekitar pukul 17.15 WIB, apabila cuaca cerah kita bisa menyaksikan indahnya sunset.

Salah seorang staf pengelola, Didik menuturkan situs Ratu Boko lebih menarik bila dikunjungi pada sore hari atau menjelang malam. Dari tempat ini dapat kita saksikan matahari yang sedang terbenam. "Disarankan datang ke sini sore hari mas, supaya dapat menyaksikan sunset," kata Didik.

Situs Ratu Boko juga disebut sebagai taman wisata, karena di sini terdapat paket wisata alam yan disediakan. Seperti arena outbond, camping ground maupun lokasi untuk foto pre wedding.

Ratu Boko terletak di 3 kilometer ke arah selatan Candi Prambanan, atau kurang lebi 18 kilometer ke arah timur dari pusat Kota Yogya. Letaknya di atas bukit yang masih bagian dari deretan pugunungan Seribu. Di sana belum disediakan penginapan khusus, namun para wisatawan dapat menginap di sekitar Candi Prambanan maupun di Kota Yogyakarta.

Oleh karenanya, tidak rugi jika Ratu Boko kita jadikan sebagai destinasi dalam mengisi liburan Tahun Baru kali ini.

Minggu, 30 Desember 2012

Penyembelihan Pengantin Bekakak, Wisata Budaya Yogyakarta.


                                             Pengantin Bekakak disembelih (Foto:Wendy S)


Meski siang itu Yogyakarta diguyur hujan, namun masyarakat tetap antusias untuk menyaksikan arak-arakan Pengantin Bekakak.Mulai sekitar pukul 13.00 WIB, sudah terlihat ribuan orang berdiri di pinggir jalan menantikan kirab yang akan diberangkatkan sekitar pukul 15.00 WIB.Acara ini berlangsung di Desa Ambarketawang, Gamping, Sleman pada hari Jumat, 28 Desember 2012.

Di kenal dengan nama ritual Saparan Bekakak, acara ini dilakukan setiap tahun pada bulan Sapar sesuai penanggalan kalender Jawa.Bekakak merupakan sepasang patung pengantin yang terbuat dari ketan putih dan di dalamnya ada gula merah, diibaratkan sebagai darah.Bekakak diarak dengan diiringi Ogoh-Ogoh, Gendruwo dan Wewe Gombel beserta para Prajurit Bregodo.Dimulai dari lapangan Ambarketawang menuju Gunung Gamping, menempuh jarak sekitar enam kilometer.Rute yang ditempuh melalui Jalan Wates menuju Ring Road Barat selanjutnya berakhir di Gunung Gamping.


                                                               (Foto:Wendy S)

Pengantin Bekakak terdiri dari dua pasang yang disembelih di dua lokasi yang berbeda.Pasangan pertama disembelih di Gamping Kidul oleh Kepala Dukuh.Sementara pasangan pengantin kedua disembelih di Petilasan Gunung Gamping di Tlogo oleh Camat Gamping dan Kepala Desa Ambarketawang.Penyembelihan dimulai dari pengantin laki-laki yang dilanjutkan dengan pengantin perempuan.Setelah ritual penyembelihan selesai, patung dari ketan putih tersebut menjadi rebutan para penonton beserta sesaji yang berupa makanan hasil pertanian.


Saparan Bekakak kali ini semakin ramai oleh pengunjung karena bertepatan dengan waktu liburan.Selain penduduk lokal, para wisatawan dari luar daerah yang kebetulan mengunjungi Yogyakarta juga ikut menyaksikan.Karena diguyur hujan mereka menyaksikan dengan cara masing-masing.Ada yang membawa payung, ada juga yang melihat dari dalam kendaraan atau bahkan ikut kehujanan.

                                                                   (Foto:wendy S)

Pelaksanaan ritual ini terbagi dalam beberapa tahap.Diawali dari midodareni Pengantin Bekakak, dilanjutkan dengan kirab dan yang terakhir adalah penyembelihan pengantin.Pembuatan patung pengantin bekakak dilakukan dua hari sebelum kirab dilaksanakan.Proses pembuatan patung dikerjakan oleh kaum wanita yang menyiapkan bahan, sedangkan kaum pria yang membuat patung tersebut. Pada malam midodareni masyarakat tirakatan dengan menggelar wayang kulit.Keesokan harinya, pada 28 Desember 2012 mulai pukul 10.00 - 11.30 WIB pasangan Pengantin Bekakak dan berbagai gunungan dapat dilihat oleh masyarakat umum di Balai Desa Ambarketawang.Mulai pukul 13.00 - 14.00 WIB dilantunkan gending uyon-uyon atau karawitan.

Ritual tersebut dilaksanakan didasari oleh legenda masa lalu yang masih diyakini oleh masyarakat setempat.Pengantin Bekakak dimaksudkan sebagai tipu muslihat untuk mengelabui setan penunggu Gunung Gamping, supaya tidak menganggu warga.Ritual penyembelihan patung pengantin bekakak dilaksanakan dari jaman nenek moyang hingga saat ini.

Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Untoro Budiharjo mengatakan upacara adat Saparan Bekakak merupakan event besar yang telah masuk dalam kalender event Kabupaten Sleman maupun DIY.Bahkan gaungnya sudah menasional, sehingga kehadirannya sangat dinanti-nantikan warga Yogyakart maupun oleh wisatawan luar daerah serta mancanegara yang sedang berlibur.

Dalam Saparan Bekakak kali ini, pihak panitia mengharapkan para pengunjung dan wisatawan agar tertib khususnya ketika kirab berlangsung sehingga tidak menggangu pelaksanaan. Mengingat pelaksanaannya menggunakan jalur transportasi umum, yaitu sebagian ruas Jalan Wates dan Ring Road Barat, maka sudah barang tentu pelaksanaan upacara adat ini sedikit banyak mengganggu pengguna jalan.

Lokasi acara tidak sulit untuk dijangkau.Para pengunjung atau wisatawan tidak dikenakan tarip sama sekali.Untuk menuju lokasi kita dapat menggunakan kendaraan sendiri atau angkutan umum, yakni bus kota Jalur 15 atau jalur 9 turun di Ringroad Barat,Gamping.Bisa juga dengan angkutan umum jurusan Wates-Yogyakarta dan turun sampai di lokasi.  

Gua Selarong: Tapaki Sejarah, Nikmati Indahnya Alam

                                                         Gerbang Goa Selarong (foto:wendy s)

Dimuat di: www.indonesiatravelhits.com

Gua Selarong memberi Anda dua pengalaman sekaligus: keindahan alam dan kenangan sejarah. Gua Selarong yang terletak di atas bukit juga dihiasi deru air terjun. Di sinilah dulu Pangeran Diponegoro meninggalkan jejak sejarah.

Lokasi Gua Selarong mudah dijangkau karena akses jalan beraspal dan halus. Selama perjalanan menuju lokasi banyak dipasang penunjuk arah menuju ke Gua Selarong. Begitu memasuki lokasi yang terletak di Dusun Kembang Putihan, Desa Guwosari, Pajangan, Bantul, ini Anda akan melewati gapura wisata. Dan Anda langsung disambut oleh patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda memakai jubah berwarna hitam.

Sampai di loket masuk, petugas jaga memberikan selembar karcis. Tarifnya Rp 2.250, sesuai data yag tertera di papan pengumuman. Tarif tersebut sudah termasuk asuransi sebesar Rp 250. Halaman parkir yang disediakan cukup luas, mampu menampung ratusan kendaraan bahkan kendaraan besar seperti bus. Jika mengendarai sepeda motor, Anda cukup membayar Rp 2.000. Adapun mobil dan bus dikenai tariff antara Rp 5.000 sampai Rp 10.000.

Beberapa meter lagi, Anda dapat melihat patung Pangeran Diponegoro menunggang kuda, tapi kali ini dengan jubah berwarna putih. Dari tempat parkir kendaraan menuju lokasi gua, jarak yang Anda tempuh kurang lebih 100 meter. Di situ jangan heran jika ada ibu-ibu paruh baya menyapa dengan senyuman sembari menawarkan dagangan. Mereka warga setempat yang berjualan minuman serta makanan ringan setiap hari.

Karena berada di atas bukit, Anda harus menapaki tangga yang cukup tinggi agar sampai ke gua. Perjalanan ini cukup menguras tenaga. Namun jangan kuatir, di kanan dan kiri terdapat gazebo serta arena outbond untuk anak-anak. Dan apabila musim penghujan, Anda juga dapat menyaksikan indahnya air terjun, yang hanya beberapa meter dari gua. Namun ketika musim kemarau airnya kering. “Kalau pas hujan menarik itu, tapi kalau kemarau seperti sekarang airnya kering,” kata Pak Arif, penjaga tempat wisata.

Dan sampailah Anda di gua bersejarah ini. Gua Selarong ini merupakan gua buatan, bukan gua alami. Ia berbentuk bukit batu yang dilobangi, yang membentuk ruangan berukuran sekitar tiga meter persegi. Menurut penuturan Pak Arif, lobang tersebut dulu menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro ketika perang melawan Belanda. Gua Kakung.

Gua Selarong terdiri dari Gua Kakung dan Gua Putri. Di depan gua dipasang pagar besi pembatas yang diberi pintu masuk. “Ini untuk menjaga keamanan,” ujar Pak Arif. Wajar, sebab gua ini merupakan bukit batu kapur yang rawan longsor. Pagar tersebut juga sebagai pengaman dari gangguan pengunjung yang suka jail.

Di sekitar gua, Anda bisa menyaksikan pepohonan, yang membuat udara jadi terasa sejuk. Biasanya pengunjung duduk-duduk di sini, menikmati keasrian alam. Lalu, di lokasi Gua Selarong juga terdapat dua buah sendang yang diberi nama Manik Moyo dan Umbul Moyo. Persis di atas gua ada dua buah makam yang diyakini sebagai para pengikut Pangeran Diponegoro ketika berjuang.

Di perbukitan kapur ini, banyak pengunjung yang melakukan kegiatan berkemah. Menariknya, di sini telah disediakan camping ground. Pepohonan yang lebat serta aliran air di sungai kecil menambah nikmatnya suasana kemah para pengunjung. Gua Putri.

Pengunjung kerap memilih untuk berkemah di sini, lantaran memang tidak disediakan tempat penginapan atau homestay. Alternatif lain, pengunjung biasanya menginap di kota. Saat berkemah, jangan kuatir dengan fasilitas kebersihan. Di lokasi wisata telah tersedia toilet sebanyak 15 kamar. Bagi yang beragama Islam juga bisa beribadah di masjid yang berada di lokasi wisata. O ya, jangan lupa membeli souvenir berupa patung primitif dari kayu. Atau, jika Anda ingin membeli souvenir batik kayu, silakan kunjungi Sanggar Diponegoro. Lokasinya di dekat gapura masuk gua. Sehingga, lengkap sudah perjalanan Anda kali ini. *

(c) ITH Kontributor: Stiawan Wendy (Yogyakarta)

Merasakan Sensasi Tinggal di Rumah Dome


                                                          Masjid di Rumah Dome(foto:wendy s)

Telah dimuat di: www.indonesiatravelhits.com

Bukan hanya rumah Joglo yang dapat kita temukan di Yogyakarta. Ada rumah yang unik, bentuknya seperti kubah. Rumah ini dinamakan Rumah Dome. Masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah rumah telletubies.

Keberadaan rumah Dome tidak lepas dari peristiwa gempa Yogya pada 27 Mei 2006. Untuk merelokasi warga Dusun Nglepen yang tempat tinggalnya hancur akibat gempa, Domes For The World Foundation, NGO dari Amerika membangun rumah yang tahan gempa. Tahan gempa, karena struktur bangunan tidak memiliki sambungan yang kerap menjadi titik lemah bangunan ketika terjadi gempa.

Rumah Dome dihiasi dengan tanaman mangga yang rindang. Letaknya yang berada di bawah bukit sangat nyaman untuk dikunjungi. Lokasi perumahan terletak di Dusun Nglepen, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Akses menuju lokasi perumahan tidak sulit. Ada dua jalur yang bisa ditempuh. Dari arah utara atau dari Candi Prambanan jaraknya kurang lebih sembilan kilometer. Sedangkan dari jalur selatan, melalui arah Yogyakarta-Wonosari jaraknya sekitar empat kilometer.

Menurut pengelola, Mas Sakiran, Rumah Dome sering dikunjungi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Yang menjadi daya tarik dari rumah ini adalah bentuknya. Di Indonesia hanya terdapat di Yogyakarta. Sejarah terbentuknya juga menjadi daya tarik tersendiri. “Mereka ke sini pingin melihat bentuknya. Kemudian yang kita jual adalah ceritanya,” terang Sakiran. Para penduduk menempati rumah ini karena tempat tinggal mereka tanahnya amblas ketika terjadi gempa sekitar enam tahun yang lalu.

Rumah Dome efektif menjadi tempat wisata mulai tahun 2009 menempati lahan seluas dua hektare. Nama aslinya adalah New Nglepen Village, diambilkan dari nama dusun para penduduk yang direlokasi berasal. Biaya perawatan berasal dari swadaya pengelola serta bantuan dari PNPM Pariwisata. Rumah Dome di Dusun Nglepen berukuran diameter tujuh meter, biaya untuk membuat satu unit rumah menghabiskan dana sekitar Rp 80 juta.

Bangunan yang berdiri pada Mei 2006 ini berjumlah 80 rumah, dengan rincian 71 rumah hunian, 6 MCK dan 3 fasilitas umum yang terdiri dari masjid, aula serta poliklinik kesehatan. Untuk sekedar melihat-lihat dan berfoto-foto di kawasan Rumah Dome cukup membayar tiket Rp 2.000. Pengelola juga menyediakan paket wisata khusus dengan didampingi pemandu, tarifnya cukup Rp 5.000 saja. Mereka diajak melihat kondisi dalam rumah, bisa memanfaatkan aula serta diajak tracking di wilayah tanah yang amblas.

Wisatawan juga dapat berkemah di camping ground yang disediakan di sekitar Masjid Rumah Dome. Selain dapat menikmati keunikan bentuk bangunan, para wisatawan juga bisa menginap. Ruangan yang disediakan ada dua kamar tidur dan lantai atas. Tarif sehari semalam sebesar Rp 75.000 per orang dengan dua kali makan. Di Rumah Dome, wisatawan dapat merasakan bagaimana tinggal di dalam rumah yang unik tersebut.

Rumah yang digunakan merupakan rumah penduduk yang pindah karena belum bisa menyesuaikan dengan bangunan seperti ini. “Akhirnya mereka bikin rumah lagi di tanah mereka yang lain yang lebih aman,” kata Sakiran.

Lokasi wisata ini juga menyediakan permainan anak-anak. Segala macam permainan tradisional dapat ditemukan di sini. Menurut pengelola nantinya akan dikembangakan dengan mandi bola, kereta listrik, sepeda unik serta pemancingan anak-anak. Lahan parkir juga disediakan, dengan tarif Rp 500 untuk sepeda, Rp 1,000 untuk sepeda motor serta mobil sebesar Rp 2.000. Sebelum meninggalkan lokasi wisata, anda juga bisa membeli oleh-oleh berupa souvenir miniatur Rumah Dome seharga Rp 10.000, gantungan kunci Rp 10 ribu, kaos bergambar Rumah Dome Rp 35.000 sampai Rp 40.000. Sedangkan mug Rp 2.000. Selain itu anda juga dapat membeli CD rekaman tentang tanah yang amblas, diambil setelah peristiwa gempa, seharga Rp 10.000. Selamat berwisata di rumah unik di Rumah Dome Yogyakarta.

(c) ITH Kontributor: Stiawan Wendy (Yogyakarta)

Sabtu, 15 Desember 2012

Menikmati Gemericik Arus Sungai Bawah Tanah Gua Pindul

Pintu keluar Gua Pindul, Gunungkidul, Yogyakarta (foto: Wendy Stiawan).

Tulisan ini telah dimuat di: www.indonesiatravelhits.com.

Banyak yang menyebut Gua pindul sebagai goa seksi oleh sebab adanya sungai yang mengalir di bawahnya. Biasanya kita bisa berjalan kaki menyusuri gua, tetapi di Gua Pindul kita harus menggunakan pelampung.

Objek wisata yang diresmikan 10 Oktober 2010 ini terletak di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul. Untuk menuju lokasi, setelah memasuki Desa Bejiharjo, perjalanan dilanjutkan lurus mengikuti garis putih aspal. Tak lama, kita akan menemukan lokasi sekretariat Goa Pindul berada di ujung jalan. Tur penjelajahan Gua Pindul sudah termasuk dalam paket wisata Dewa Bejo (Desa Wisata Bejiharjo).

Cara terbaik menikmati keindahan stalagtit dan stalagmit di Goa Pindul adalah dengan menyusuri arus sungai bawah tanah menumpang bagian atas ban karet yang dihanyutkan. Aktivitas ini biasa disebut sebagai cave tubing. Aliran sungai yang mengalir di dalam Goa Pindul berasal dari mata air Gedong Tujuh yang tidak pernah kering meski sedang musim kemarau.

Untuk masuk ke dalam gua, kita dikenakan tarif 30 ribu rupiah per orang termasuk seorang pemandu yang mendampingi. Paket ini juga sudah termasuk sewa helm, pelampung, ban karet serta sepatu karet. Transportasi menuju lokasi disediakan oleh pihak setempat berupa kendaraan angkutan bak terbuka. Untuk mencapai lokasi gua memang dibutuhkan kendaraan yang tangguh, sebab jalan menuju lokasi agak terjal karena aspal yang mulai rusak.

Sebelum melakukan penjelajahan, pemandu memberikan pengarahan bagaimana cara melakukan cave tubing. Para pemandu berasal dari penduduk sekitar yang sudah profesional.

Di dalam goa terdapat stalagtit yang berbentuk seperti kelamin laki-laki. Oleh penduduk setempat, stalagtit itu disebut sebagai batu perkasa. Mitos yang beredar, stalagtit itu bisa menambah keperkasaan kaum pria yang memegangnya. Terlepas benar atau tidak, yang jelas banyak pengunjung pria yang mencoba memegangnya.

Ada pula stalagtit yang berbentuk hiasan dinding tirai dan batu kolom. Di sana terdapat juga air mutiara yang selalu menetes setiap kali orang lewat di bawahnya. Air mutiara sering digunakan wisatawan perempuan untuk membasuh muka. Lagi-lagi ada mitos yang beredar kalau air tersebut bisa menambah kecantikan dan membuat awet muda.

Goa Pindul membentang sepanjang 350 meter dan dapat ditelusuri kurang lebih selama satu jam. Penjelajahan gua akan berakhir pada sebuah dam yang airnya jernih.

Menurut pengelola, nama Gua Pindul berasal dari sebuah legenda setempat tentang seorang bayi yang pipinya terbentur batu saat dimandikan di goa ini. Orang jawa menyebutnya kebendhul. Oleh sebab itu akhirnya Gua ini dinamakan Gua Pindul dari asal kata kebendhul.

Para wisatawan yang berkunjung harus tetap hati-hati dalam melakukan penjelajahan meskipun sudah didampingi pemandu. Menurut informasi, terdapat dua orang korban hanyut di Bendungan Banyumoto yang masih berada di kawasan Gua Pindul. Kecelakaan itu terjadi karena wisatawan masuk tanpa sepengetahuan pengelola resmi Gua Pindul.

Jika lapar, di sekitar tempat wisata Goa Pindul terdapat beberapa warung makan yang menyediakan bakso dan minuman segar. Untuk melepas lelah setelah menjelajah gua atau menginap, kita bisa menumpang tidur dan menyewa kamar di rumah-rumah penduduk sekitar. Para penduduk sekitar ramah terhadap wisatawan, harga sewa kamar menginap pun tak bakal menguras kantung Anda. Selamat mencoba menjelajah gua!*

Kontributor Yogyakarta: Wendy Stiawan.

Pantai Sidem, Pesona Tercantik di Jawa Timur

                                Pantai Brumbun, Tulungagung, Jawa Timur (foto: Wendy Stiawan)

Tulisan ini telah dimuat di: detikTravel.com.


detikTravel Community - Hamparan pasir, batu karang, serta deretan pohon kelapa, menghiasi tiap sudut Pantai Sidem di Tulungagung, Jawa Timur. Keindahan panoramanya yang cantik ini pun jadi daya tarik untuk para wisatawan.

Hawa sejuk mulai saya rasakan begitu memasuki kawasan wisata Pantai Sidem. Pohon kelapa yang menghiasi bibir pantai, menambah keasrian pantai yang terletak di selatan Tulungagung tersebut.

Seperti pantai-pantai lain di wilayah Tulungagung, Jawa Timur, Pantai Sidem berada di balik bukit. Destinasi ini merupakan salah satu teluk di deretan Samudera Hindia.

Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Akan lebih mengasyikkan lagi bila Anda mau berjalan kaki. Pemandangan hutan jati di sepanjang jalan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Dari atas bukit terlihat birunya air laut serta perahu-perahu nelayan yang mencari ikan. Udara siang hari yang terik tetap terasa sejuk bila Anda berada di Pantai Sidem. Hal ini dikarenakan masih banyaknya pepohonan yang tumbuh di sekitar pantai selain pohon kelapa yang menjadi cirinya.

Mendekat ke bibir pantai, kita dapat menikmati hamparan pasir berwarna putih kecokelatan. Namun sayang, masih banyak orang yang belum sadar akan kebersihan di pantai ini. Masih banyak sampah rumah tangga berserakan di mana-mana.

Di sekeliling pantai yang berpasir ini, kita juga menikmati batu karang. Lagi-lagi tempat ini sangat cocok untuk para fotografer yang ingin mengambil foto melalui jepretan kemera.

Tidak jauh dari lokasi, juga terdapat bendungan. Bendungan ini merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Niama.Di sinilah pertemuan antara air tawar yang berasal dari Sungai Niama dengan air laut.

Keberadaan bendungan tersebut tidak lepas dari penyelamatan Kota Tulungagung dari banjir di era 80-an. Dengan dibangunnya Bendungan Niama, air yang dulunya menggenangi Tulungagung bagian selatan sekarang dapat mengalir langsung ke laut. Untuk masuk ke kawasan wisata Pantai Sidem, Anda cukup dikenakan tiket seharga Rp 3.000 per orang. Apabila menggunakan sepeda motor tiketnya ditambah Rp 1.000, sedangkan mobil Rp 2.000 dan kendaraan besar seperti bus Rp 2.500.

Oh iya, di lokasi pantai ini Anda dapat menikmati makanan khas Tulungagung berupa rujak. Dengan bumbu sambal kacang ditambah kerupuk yang renyah, rasanya pun nikmat.

Harga satu porsi makanan ini hanya sekitar Rp 3.500. Akan lebih nikmat lagi bila Anda memesan minuman es kelapa muda yang dipetik dari pohon sekitar pantai dengan harga Rp 5.000 per buah. Oleh karena itu, tidak rugi jika memilih Pantai Sidem ini sebagai destinasi liburan Anda.

Contributor: Wendy S.

Berwisata Sekaligus Mengenal Batuan Di Museum Karst

                                 Museum Karst di Pracimantoro, Wonogiri (foto:Wendy Stiawan).

Tulisan ini telah dimuat di: www.indonesiatravelhits.com.

Bangunan dengan bentuk unik menyambut kita begitu memasuki pintu gerbang museum.Sekilas bentuknya seperti piramida di Mesir, atapnya runcing serta terdapat beberapa anak tangga guna menaikinya.Museum karst, adalah museum kebanggaan masyarakat Wonogiri.Karena museum ini merupakan museum terunik dan terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara.

Lokasi yang berada di kawasan perbukitan gamping semakin menambah daya tarik untuk dikunjungi.Sesuai dengan namanya, karst merupakan istilah dari bahasa Yugoslavia yang merujuk pada wilayah yang terdiri dari batuan yang mudah larut seperti batu gamping.Hamparan sawah serta hutan jati dapat kita nikamati seraya memasuki kawasan museum karst.Di sekitarnya terdapat beberapa gua yang keberadaannya juga masih berkaitan dengan fungsi museum.

Menurut Agung, salah seorang pemandu museum, lokasi didirikannya museum ini memang sengaja diletakkan di kawasan perbukitan gamping.Dengan tujuan para wisatawan yang berkunjung dapat belajar mengenai batuan karst dan sejarah gua.Ada tiga fungsi yang didapatkan ketika kita mengunjungi museum karst.Yakni fungsi pendidikan, fungsi rekreasi sekaligus menjaga keberadaan situs atau fungsi lindung.

“ Selain kita dapat belajar di dalam, kita juga dapat mengenal di luar.Karena gua-gua di sekitar sini juga terdiri dari batuan karst, “ terang Agung.

Di dalam museum para wisatawan diperlihatkan diorama gua serta koleksi berbagai jenis batuan gamping.Selain itu kita juga dapat menikmati film yang berkaitan dengan proses terbentuknya batuan karst.Replika manusia purba juga menjadi koleksi museum, sekaligus penggambaran kehidupan manusia purba.

Museum kars didirikan pada tahun 2008 dan efektif menjadi tempat wisata pada tahun 2010.Letaknya berada di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogori.Lokasinya berada di antara tiga Kabupaten, yakni Wonogiri, Gunungkidul dan Pacitan.

Untuk masuk di dalam museum tidak dikenakan biaya alias gratis.Namun, di loket kawasan wisatan ada tarifnya karena museum karst berada di lokasi wisata Gua di Pracimantoro.Tiket masuknya beda-beda.Pada hari Senin sampai dengan Sabtu sebesar Rp 2.100 sedangkan hari Minggu Rp.3.100.Bagi yang membawa kendaraan juga dikenakan biaya masuk.Kendaraan besar seperti bus sebesar Rp.10.000, mini bus Rp.5.000, mobil Rp.3000 dan sepeda motor Rp.1000.Oh ya, museum karst pada hari Jumat tutup sementara hari-hari yang lain tetap buka termasuk hari Minggu.

Akses jalan yang beraspal dan halus memudahkan para wisatawan untuk berkunjung ke sana.Jarak tempuhnya kurang lebih 40 km dari kota Wonogiri, sedangkan dari Pacitan sekitar 50 km.Apabila dari Kabupaten Gunungkidul kita melakukan perjalanan sekitar 55 km.

Moda transportasi menggunakan kendaraan pribadi karena lokasinya berada agak jauh dari perkampungan padat penduduk.Banyak juga yang menyewa jasa travel atau ojek.Di sekitar museum banyak terdapat warung yang menyediakan makanan dan minuman untuk melepas dahaga, maklum udara di sekitar lokasi cukup panas. .

Bagi yang beragama Islam tidak perlu kuatir, di lokasi disediakan Masjid untuk tempat beribadah.Tempat ibadah lain yakni Pura bagi yang beragama Hindu.Lokasi parkir yang disediakan cukup luas dan aman. Museum karst tidak jauh dari tempat menginap.Wisatawan yang berasal dari luar kota dapat menyewa homestay di sekitar museum.Tempatnya di rumah-rumah penduduk dengan tarif Rp.50.000 per rumah.Jumlah homestay sejumlah 24 rumah.Masing-masing rumah mempunyai jumlah kamar yang berbeda-beda tergantung berapa orang yang akan menyewa.

Bagi yang biasa tidur di hotel, tidak jauh dari sana, sekitar 3 km, terdapat beberapa hotel.Tarifnya antara Rp.50.000 sampai Rp.100.000 per malam.

Museum karst menawarkan paket wisata dan edukasi yang tidak akan rugi untuk anda kunjungi.Selamat berwisata!

Kontributor Yogyakarta: Wendy Stiawan.